Minggu, 31 Oktober 2010

Bintang Hati

Saat jiwa memacu syahdunya cinta, dia kugegam erat…
Dan dekapan bayangan sukmanya
hingga berbentuk bintang hati.....
Tapi ruang untuk dia pergi berarak lirih dirangkulanku....
≈≈≈
 “Za, ada yang nitip salam buat kamu, nih!!”
“Siapa?” jawabku cuek sambil mencoret kertas folio. Mencoba menggambar dengan benar jaringan kalenjar saliva seperti di diktat kuliah.
“Pokoknya Kamu bakal terkejut deh, dia cowok paling populer di kampus kita. Aku juga terkejut saat dia bilang kalau suka sama kamu”
”Siapa sih?”
”Dia cowok paling T.O.P be-ge-te deh. Gak ada cewe yang gak kenal bahkan gak demen sama dia!!!”
“Iya siapa? Bikin penasaran aja!”
”Iya siapa Rei?” sambung temanku yang lain penasaran. Saat kami berempat lagi kumpul di taman kampus yang asri untuk ngerjain tugas mata kuliah Histologi. Ini bukan ngerjain tugas lagi namanya
”Kak Diioooonnnnnn!!!” teriaknya kuueenceng banget.
”Apa??!!” balas teriakan dua temanku yang lain.
”Kenapa sih? Segitunya respon kalian?” tanyaku bingung. Sampai masih ada yang mangap mereka. ”Dion? Siapa dia?” kataku garuk-garuk kepala yang gatal. Sesaat kemudian mata semua temenku langsung melihatku aneh.
”Za, bener Kamu gak kenal sama Kak Dion?” kata Ceny gak percaya.
”Iya Za, Kak Dion yang cakep itu, yang keren itu, yang ketua senat itu, yang idola kita semua!!!” kata Iva histeris.
”Cowok yang dulu pernah kamu tampar pas ospek Za...” kata Rei melengos melihatku rupanya belum selesai dari alam pencaharianku.
Shettt!
Pernah kutampar? Mmmmm, apa mungkin cowo itu?
Saat itu kami lagi menghadapi suasana ospek yang bener-bener gak bersahabat buat mahasiswa baru. Semua tegang. Setelah acara penerimaan mahasiswa baru diresmikan oleh rektor, para kakak tingkat udah mempunyai cara sendiri-sendiri untuk mengerjai kami. Mereka semakin menjadi-jadi kalau kami melakukan kesalahan. Disuruh cium kodok lah, peluk pocong lah, gendong mayat lah, bahkan cium mayat yang barusan beberapa jam yang lalu dilindas truk!! Apes banget ya ospek di fakultas kedokteran ini...
Nasib sial itu pun mangkir juga ke arahku. Saat itu kami semua di suruh kakak tingkat berkacamata yang sangar itu membawa cacing satu kilo. Pas di rumah aku udah nimbang di takaran dan berat binatang mengeliat merah kecokelatan itu menunjukkan angka satu kilo. Tapi udah nyampe di kampus, saat di timbang lagi berat nya kelebihan satu ons!!
Dan jadilah Aku termasuk barisan yang dihukum. Langsung aja Aku diserahkan ke kakak tingkat yang akan menghukumku. Dia seorang cowok tinggi tegap dengan wajah oriental yang sering aku lihat di majalah Asians. Tapi mukanya sama juga gak kalah sangarnya dengan teman lainnya yang sadis. Tapi anehnya, teman-teman yang senasib dihukum gak ada yang takut kayak tadi. Malah muka mereka pada kesemsem gak jelas. Huh!! Saat itu Aku dapat giliran paling terakhir dan berbeda dengan yang lainnya. Mereka yang lain di suruh lari-lari keliling lapangan tiga kali sambil nenteng tikus yang barusan mati. Yak!! Aku bingung saat Aku gak disuruh ikutan.
”Kamu dapat hukuman yang lain!!” katanya sangar sambil menatapku aneh.
Dan begitu teman-temanku selesai dengan hukuman. Kakak itu menyuruhku mencium kakinya yang dijejeri bayi tikus yang masih merah. Aku langsung sontak kaget mendengarnya. Maksudnya apa? Aku bisa saja mencium bayi-bayi tikus tapi di depan kakinya? Betul-betul kurang ajar. Belum sempat dia melanjutkan perintah gilanya.
Plak!!!
Tamparan itu sukses mengenai mukanya yang babu face itu. Rasain!!!
”Jangan harap Aku mau menuruti perintah konyol Kamu ya? Memangnya Kamu pikir Aku ini apa sampe nyuruh cium kaki yang bentuknya aneh itu. Hah!!” gertakku setelah puas menamparnya. Kulihat dia meringis sambil menyeka darah yang mulai mengalir dari pipinya. Bagusnya lagi semua mata langsung terhenti dan menoleh ke arah kami dengan pandangan yang susah aku mengerti.
Aku tersenyum sendiri saat teringat kejadian yang sebenarnya menyebalkan bagiku. Tapi sekarang lebih lucu untuk diingat. Lumayan juga membuatnya jera memeperlakukan adik tingkat dengan tidak semena-mena!! Tapi Aku sempat takut masuk kampus keesokkannya. Jangan-jangan dia udah menyiapkan sesuatu untuk membalasku. Apalagi sesaat setelah menamparnya, Aku baru tahu kalau dia ketua panitia ospek di fakultas kedokteran. Bisa saja dia mendepakku. Tapi semua ketakutanku gak terjadi. Semua berjalan dengan semestinya. Meski banyak yang merespon negatif tindakanku.
Lagian dia sama sekali gak menggugat. Aku juga gak sudi minta maaf lebih dulu padanya. Dan sekarang, dia malah suka padaku? Jangan-jangan dia cuman mau balas dendam.
”Bilang aja makasih!” jawabku cepat ke Rei. Ya, dia pasti mau balas dendam atas sikapku, pura-pura suka padaku segala. Padahal ingin menerkamku dari belakang!
≈≈≈
Pohon pinus yang meneduhkan, lamat-lamat melambaikan daunnya yang sangat kecil jamak. Menghindarkan semua insan dari sengatnya matahari yang megah-megahnya menampakkan diri. Disana, di taman yang menyejukkan mata yang memandang. Duduk dengan serius seorang cowok sambil melumat buku kuliahnya. Poninya yang melewati dahi, melambai-lambai seakan ingin berebut perhatian pemiliknya yang mempesona. Tanpa disadarinya, banyak mata-mata pengagum. Menikmati setiap bagian wajah yang diukir dengan indah oleh sang Maha Indah.
Dia sibuk berkutat dengan hapalan pelajaran mata kuliah Parasitologinya. Dari dulu gadis-gadis itu selalu mengejarnya tanpa bosan. Mata mereka saat melihatnya penuh dengan perasaan suka yang membuatnya gerah. Dia seperti bahan tontonan semu mereka pemuja keindahan fisik. Semua diacuhkannya. Tak pernah bergeming hatinya saat semua gadis-gadis itu menggunakan beragam cara untuk menakhlukannya. Baginya begitu rendah harga diri seorang cewek yang mendekatinya. Alasan emansipasi kata mereka.
Cantik juga bukan jaminan hatinya bisa terpaut. Dia malah sangat aneh melihat wanita yang berbondong tampil cantik dengan berbagai treatment kecantikan yang sebenarnya pasti sangat menyiksa mereka. Padahal semua wanita itu cantik kalau mereka bisa mensyukuri semua yang diberikan padanya. Hidupnya selama ini hanya terpaku pada kuliah dan organisasi. Tapi semua itu berubah saat dia mendapat tamparan itu. Tamparan cinta menurutnya. Karena pamling saja, sejak ditampar oleh mahasiswi baru itu, dia seperti dihipnotis panah asmara. Banyak temannya yang mengecam tindakan itu, tapi dia malah sebaliknya. Apalagi dia yang terkenal galak, sekarang berubah menjadi pria lembut yang sangat peka dengan sekitar. Dia menjadi murah senyum dan selalu menegur siapa saja. Yang bahkan dulu sangat anti dilakukannya. Cinta memang bisa membuat korbannya menjadi bukan dirinya lagi. Gadis yang sangat berbeda. Gadis yang baginya mempunyai nilai harga diri yang tinggi. Inilah yang dia cari.
Tapi sayang, sikap acuh dan ketus itu membuat nyali Dion turun satu oktaf. Sering dia mencoba tersenyum dan menyapa gadis itu. Tapi sikap benci yang disuguhkan untuknya. Tak mengapa. Bisa melihatnya setiap hari sudah membuat laki-laki keturunan darah ningrat itu senang. Tapi setelah setahun memendamnya, perasaan itu semakin membuncah di dadanya. Mengambil alih kendali kinerja otaknya. Semua menjadi amburadul saja kalau dia tidak bertindak. Tapi bagaimana caranya? Ini pengalaman pertamanya. Jadilah dia, meminta bantuan Rei, sahabat karib gadis pujaannya. Rei adalah adik sahabatnya, membuat urusan ini mudah, batinnya.
”Rei, jadi gimana? Kamu bisa bantu kan?” pinta Dion tanpa basa basi. Sukses bikin Rei terkejut saat abangnya bilang kalau Dion sangat menyukai Zahra. Sempat dia cemburu dan kecewa, tapi dia sportif dengan keputusan Dion menyukai sahabatnya. Seperti haknya juga menyukai Dion.
”Ok deh Kak, entar Aku coba dulu ya. Soalnya...” suara Rei menggantung. Bakal sulit nih, batinnya. Bagaimana tidak kalau Zahra sangat membenci Dion sejak ospek.
”Kenapa Rei?”
”Enggak apa-apa kok. Pokoknya Aku usaha’in yang terbaik deh buat Kak Dion...” cukup mengukir senyum menawan di wajah Dion.
Dan jadilah, dengan berbagai cara dilakukan Rei supaya Zahra mau membuka hatinya untuk  Dion.
”Emangnya Kamu dibayar berapa sih sama si sengak itu? Giat banget comblangin Aku. Aku udah berapa kali bilang. Aku gak suka sama dia!!!” pekik Zahra saat kesekian kali Rei melakukan aksinya. Dia hampir putus asa, kalau gak teringat dengan senyum menawan itu.
”Kenapa harus Zahra sih yang disukai cowok yang nyaris perfect kayak Kak Dion!” protes Rei setiap usahanya menemui jalan buntu.
≈≈≈
”Za, kalau udah selesai kuliah, temuin Kakak di taman rumah sakit ya?” pinta seorang cowok di telpon padaku.
Dion. Akhirnya hatiku melunak juga. Persangkaan itu ternyata nihil. Dia benar-benar tulus menyukaiku. Tentu dengan bukti yang akurat. Kusuruh dia memploklamirkan perasaan cintanya sentero kampus.
”KEPADA KALIAN SEMUA, YANG MENJADI SAKSI ATAS PERKATAAN JUJURKU INI. DENGAN INI AKU MENYATAKAN BAHWA AKU MENCINTAI AZ-ZAHRA DEVIKA DARI DASAR HATIKU YANG PALING DALAM. PERNYATAAN INI AKU KATAKAN SEJUJURNYA. ZAHRA, AKU CINTA PADAMU!!!” teriak Dion lantang berdiri di lapangan kampus dengan suara yang menggema sambil menenteng fotoku ukuran setinggi badannya. Cinta ternyata telah merusak akal syarafnya yang cerdas. Aku berdiri ditengah kerumuman mahasiswa lain yang melengos dengan sikap ketua senat kampus itu. Aku tersenyum senang dan meninggalkannya dengan puas.
Ternyata itu belum apa-apa, banyak pengorbanan lainnya yang membuktikan cinta itu. Antar jemput sudah menjadi hal yang lumrah dilakukannya. Semua tugas kuliahku terbantu dengan otak cerdasnya. IP-ku selalu diatas 3,5 sampai aku lulus di kedokteran dengan cam laude dan menjadi Co-aas sekarang ini. Kost, kuliah, dan keperluan sehari-hari dia penuhi dengan hartanya yang melimpah. Meskipun betapa hebat kumenolak kebaikannya. Dia ingin belajar menjadi suami yang bertanggung jawab, katanya. Lucu. Selama hampir lima tahun ini aku lewatkan setiap hari dengannya. Tak pernah duka menghampiriku saat bersamanya. Memang aku tak pernah menyatakan diri menerima dia sebagai pacarku, dia tersenyum karena dia sudah mengkhitbahku sebagai calon istrinya.
”Kamu bagiku udah soulmate, melebihi pacar.” kata Dion mantap. ”Calon istriku...” bisiknya lagi saat kami lagi menikmati semilir angin di taman rumah sakit pemerintahan ini.
Dia sekarang seorang residen, calon mahasiswa spesialis syaraf. Dulu setelah lulus, banyak sekali tawaran beasiswa S2 di luar negeri untuknya. Tapi tidak pernah dia terima, dia memutuskan meneruskan pendidikan di negeri sendiri. Alasan keduanya karena pendidikan di Indonesia sudah lebih bagus. Alasan pertama, karena aku tentu saja. Aku sekarang menjalani tahun keduaku sebagai Co-ass. Meskipun kami praktek di rumah sakit yang berbeda komunikasi masih sehangat dulu. Besok adalah bulan terakhirku menjadi Co-ass dan dapat kerja sebagai seorang dokter umum. Bersama Dion. Entahlah, selama lima tahun bersama saat inilah aku mulai menyukainya. Aku jatuh cinta padanya baru sekarang setelah semua pengorbanan itu.
  ”Sayang, setelah menyelesaikan pendidikan Co-ass kamu. Kita harus cepat pulang ke Banjarmasin ya?” kata Mama suatu sore saat aku barusan pulang dari rumah sakit,  setelah selesai membantu dokter Ambar melakukan operasi pengangakatan rahim. Aku bingung, ada apa? Suara Mama begitu serius. Mama baru beberapa hari tiba di Solo. Bersama adik dan Ayahku mereka ingin melihatku wisuda menjadi dokter. Waktunya tinggal menghitung hari.

Dan sekarang hari itu tiba. Aku telah resmi menjadi seorang dokter umum. Gak bisa kuungkap perasaan itu. Meletup-letup di rongga kepalaku. Ingin rasanya cepat bertemu Dion dan merayakan kelulusanku, tapi Mama menyuruhku untuk cepat bergegas. Kujelaskan kalau aku ingin bertemu Dion dan memperkenalkannya pada Mama dan keluarga, tapi mendadak wajah Mama berubah menjadi keruh. Aku takut melihatnya. Aku pergi tanpa memberitahu Dion. Saat di Kalimantan adalah saat meredupnya bintang di hatiku.
≈≈≈
Hari ini hari kelulusan Zahra sebagai dokter umum. Tapi sialnya Dion tidak bisa ikut merayakannya karena tadi ada operasi mendadak dari seorang pasien rujukan yang ingin melakukan pencangkokan jantung. Syukurlah Dion tetap bisa berkonsentrasi meskipun hatinya kacau balau.
Kakak konsn aja sm oprsinya. Gk apa2 kok klo gk bisa dtng. Aku ngrti. Bsok aj ktmu di tman rmh skit sprti biasa, ok?
Dion tersenyum membaca sms Zahra, besok Dion akan melamarnya. Dirogohnya saku jas kerjanya. Sebuah kotak kecil berwarna merah hati bertaut di tangannya. Di bukanya kembali kotak cantik itu. Sebuah cincin berlian bermata biru safir menyembul dan memancarkan keindahannya. Cincin yang ia ukir dan dibuat sendiri. Cincin ini sudah terpantri di bayangan bintang hatinya sejak lima tahun yang lalu. Besok adalah hari yang dinantinya. Dion tidak peduli Zahra bukan  berasal dari kalangan keraton.
Masih teringat jelas di ingatan Dion saat dia menolak mentah-mentah perintah orang tuanya untuk menikah dengan seorang gadis jawa keturunan keraton juga. Dion ternyata sudah di jodohkan sejak kecil tapi dia dengan tegas menyatakan keinginannya untuk melamar gadis Kalimantan setelah dia lulus. Sontak membuat orangtuanya mendapat serangan jantung. Bagaimana bisa ketentuan adat ditentang. Tapi cintanya memang harus diperjuangkan. Sekarang mereka masih menuding Dion karena tidak menjalankan perintah digma agung dari keraton.
Besoknya....
Disinilah Dion sekarang, menunggu kedatangan bintang hatinya. Mereka selalu disana setiap sore seusai kerja sambil menikmati betapa sempurnanya keseimbangan alam. Tapi lima jam menunggu Zahra tidak datang juga. Kekhawatiran Dion memuncak ketika ponselnya pun tidak aktif.  
”Za, kamu kemana sih?” lirihnya sambil menggegam erat kotak cincin berlian bermata biru safir itu..
Malam semakin larut tapi tidak ada pertanda Zahra akan datang, Dion kalut dengan pikiran yang meracau. Seingatnya Zahra tidak pernah melanggar janjinya. Dia sangat kenal sifat bintang hatinya itu. Dalam kebingungan, dia teringat Rei dan mencoba menghubungi gadis yang satu partner kerja dengannya.
”Ya halo Kak...” jawab suara diseberang sana yang kedengaran ketakutan  sesaat setelah Rei menerima telepon Dion..
”Rei, kamu tahu sekarang Zahra dimana? Dia gak datang saat kami  janjian sekarang ini. Aku udah menunggunya lebih dari lima jam tapi bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi!!!” pekik Dion panik sampai mengencangkan urat nadiku.
”.......”
”Rei, kenapa diam? Kamu tahu apa yang terjadi sama dia?!”
”Mmm, gini Kak, Aku juga barusan diberitahu Zahra tadi lewat telpon, dia....”
”Iya, dia kenapa?!!”
”Zahra sekarang udah ada di Banjarmasin. Hari ini dia menikah dengan  tunangannya. Dia....”
Entah apalagi kata-kata Rei, tiba-tiba saja seperti ada yang meruntuhkan langit hatinya, mengaduk-aduk susunan teratur paraduan jiwanya, Dion tak sanggup mencerna lebih lama apa yang baru didengarnya. Bintang hati yang bersemayam selama lima tahun itu meredup dan hilang ditelan pekatnya hitam. Tubuhnya terhuyung tak berdaya. Dion pingsan.
Surakarta, 07 Mei 2010