Senin, 27 Juni 2011

Cerpen Anak


Ayo, Bersepeda!
Oleh : Ayu RH
“Mawar, udah selesai?” panggil Papa dari bagasi rumah.
“Iya, Pa. Sebentar!” Mawar mengunyah cepat sarapan nasi goreng buatan Mama.
“Makanya kalo ke sekolah pakai sepeda! Jadinya kan gak perlu berangkat pagi-pagi bareng Papa gitu,” ledek Kak Melati. Mawar cemberut. Dia memang harus berangkat pagi sekali kalau mau berangkat sama Papa pakai mobil. Mawar malas berangkat sekolah pakai sepeda.
“Kan enak pake mobil ada AC-nya. Mawar bisa duduk santai sambil dengerin musik. Daripada pake sepeda, nanti pakaian seragam Mawar basah karena keringat!” kata Mawar membela diri kalau Kak Melati menyuruh Mawar pakai sepeda. Padahal Mawar udah bisa pakai sepeda sejak kelas tiga SD, Mama dan Papa juga sudah membelikan sepeda cantik buat Mawar tapi Mawar tetap saja malas memakai sepedanya.
“Terima kasih, Pa,” saat Papa sudah mengantarkan Mawar di depan gerbang sekolahnya. Mawar berjalan menuju kelasnya dengan penuh semangat. Pagi ini pelajaran IPA yang diajarkan Ibu Pina. Mawar sangat senang dengan pelajaran alam karena Mawar sangat suka dengan alam sekitarnya terutama bunga-bunga.
“Pagi, anak-anak!” sapa bu Pina masuk kelas saat bel sekolah berbunyi
“Pagi, Ibu guru!!!” sahut anak-anak kelas empat dengan ceria.
“Nah, hari ini Ibu Pina akan mengajarkan tentang cara menjaga lingkungan kita. Sebelumnya ibu tanya dulu, siapa diantara kalian yang berangkat sekolah pakai sepeda?”
Hampir seluruhnya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Hanya Mawar dan Lina yang tidak mengancungkan tangannya.
“Bagus-bagus. Lho, Mawar dan Lina kalau ke sekolah pakai apa?” tanya Ibu Pina saat melihat mereka tidak ikut mengacungkan tangan.
Mawar menunduk malu untuk menjawab. Sedangkan Lina langsung berdiri untuk menjawab pertanyaan Ibu Pina. “Lina gak punya sepeda, Bu. Jadi setiap hari berangkat sekolah pakai bis.”
“Oh begitu, kalau Mawar kenapa?” Ibu Pina menoleh kearah Mawar.
Mawar jadi malu untuk menjawab, “Ma…malas, Bu…”
“Lho, kenapa malas?” teman-teman Mawar malah ketawa meledek mendengar jawaban Mawar.
“Ya, capek aja berangkat sekolah pakai sepeda. Kan lebih enak pakai mobil…”
“Huuuuuuuuuuu!!!” ledekan teman-teman Mawar semakin menjadi. Ibu Pina mencoba menenangkan.
“Sudah-sudah jangan ribut! Kalian mau tahu kenapa Ibu tanya apa kalian berangkat sekolah pakai sepeda?”
“Iyaaaaaaa!”
“Karena bersepeda itu sehat dan menyehatkan. Mawar, memang pakai sepeda itu capek tapi justru membuat tubuh kita sehat karena sekalian berolahraga. Selain bagus untuk kesehatan tubuh, bersepeda juga membantu menjaga lingkungan kita. Kalau kita bersepada, kita ikut mengurangi polusi udara. Ibu sudah pernah jelaskan kalau lapisan ozon yang melindungi bumi kita ini sudah mulai menipis. Kalau kita memakai sepeda atau jalan kaki ke sekolah yang jaraknya lumayan dekat, kita sudah membantu mengurangi kerusakan lapisan bumi tersebut. Dan lingkungan kita menjadi lebih bersih. Kalian mau kan lingkungan kita bersih dan sehat?”
“Iyaaaaaaa!!!”
Mawar menganguk paham. Mulai besok pagi Mawar janji akan memakai sepeda hadiah Papa Mama. Dia tidak ingin lingkungannya tambah kotor nanti bunga-bunga akan layu. Oh ya, dia juga akan ajak Lina bersepeda bersama!

Sinopsis Novel Fantasiku_Selubung Speranza

Avara, seorang gadis autis yang terjebak di sekolah kaum inteletual, Speranza. Dia cerdas dan cantik. Tapi sangat sulit berkomunikasi dengan orang lain karena keautisannya. Dia hanya akan menjadi gadis normal bila tidak ada siapapun di dekatnya. Seorang guru yang simpati pada Avara hidup di panti asuhan pun memungutnya. Sayang, hampir semua orang menjauhinya. Mereka takut dengan penampilan dan sikap Avara yang aneh. Sekaligus bingung mengapa gadis autis itu bisa diterima di sekolah mereka.
Avara pun dimusuhi oleh geng cewek paling popular di sekolah yang terdiri dari tiga orang gadis cantik dan kaya raya, Engrasia sebagai pemimpin geng itu adalah anak pemilik kebun cengkeh di kota Otadan, dengan dua pengikutnya Winola dan Sarila. Avara pun selalu jadi bulan-bulan mereka. Dan cuma seorang cowok aneh kutubuku Leroy Osmond yang bersedia melindungi Avara dari gangguan mereka.
Sebenarnya Avara adalah peri langit junior yang dihukum peri ketua karena kenakalannya. Dia ketahuan memasukkan obat gatal sakti ke minuman peri pengampu yang jadi gurunya karena malas belajar ilmu peri terapan. Avara sudah menganggap dirinya lebih hebat dibandingkan guru tua itu. Dengan marah besar peri ketua mengutuknya menjadi manusia dengan penyakit autis dan di lemparkan ke dunia ambang 13 yang selama ini hanya sebagai dongeng di negeri Radoslaw. Bahwa dunia itu adalah masa hilangnya kerajaan Radoslaw.
Avara hanya akan menjadi peri kembali ke kerajaan Radoslaw bila dia menemukan putra mahkota kerajaan langit Radoslaw yang diculik moster ungu Mackinnley. Keluarga peri yang turun menurun menjaga kerajaan langit Radoslaw itu dikalahkan monster Mackinnley dan membuang putra mahkota ke negeri ambang 13.
Dengan keterbatasannya, Avara berusaha menemukan putra mahkota dengan mutiara biru yang diberikan sahabatnya, peri Jauza. Peri jauza kasihan dengan Avara dan memberikan bocoran bagaimana menemukan putra mahkota. Mutiara biru itu akan memendarkan kemilau perak apabila berada di dekat sang putra mahkota.
Dan Avara sangat terkejut saat mutiara biru itu berwarna perak saat didekatkan dengan Leroy. Leroy yang ingatannya dihapus oleh Mackinnley langsung bisa mengingat lagi setelah mencium mutiara biru itu.
Avara pun membawa Leroy kembali ke langit tapi terhalang. Dia punya pantangan yang lain. Leroy tidak akan bisa kembali ke kerajaannya karena telah jatuh hati dengan peri penjaganya yang tak lain adalah kakak kandung Avara, peri daun Helga.
Dengan jatuh bangun Avara membuang rasa cinta Leroy agar dia bisa kembali ke kerajaan. Tapi sayang justru Avara yang kini jatuh cinta dengan Leroy dan berimbas dia akan tetap menjadi gadis autis karena perasaanya. Avara pun jungkir balik membuang rasa cinta pertamanya.
Disaat itulah sekolah Speranza mengadakan lomba pidato nasional. Orang tua asuhnya ingin menunjukkan kalo Avara bisa menghilangkan autisnya. Dengan susah parah Avara belajar agak bisa berbicara dengan orang lain. Dengan bantuan Leroy dan Jauza, Avara berhasil bicara di depan orang banyak. Penyakit autisnya mulai berkurang.
Mackinnley yang tahu putra mahkota telah ditemukan berusaha mencelakakannya dengan menaburkan racun Moza tapi berhasil digagalkan oleh Avara yang berada di samping Leroy. Leroy yang hampir kehilangan kekuatannya karena racun Moza, sangat berterima kasih dengan pertolongan Avara.
Tapi sejak itu Leroy pun mulai menyukai Avara. Avara yang berhasil menghilangkan sedikit autisnya dan telah menghilangkan rasa cintanya buat Leroy kembali kelimpungan. Dia sudah hendak mempersiapkan diri ke langit untuk mejadi peri langit lagi saat Leroy menyatakan cintanya.
Akankah Avara bersedia menerima cinta Leroy dengan konsekkuensi dia akan mejadi manusia biasa atau menolak Leroy dan bisa membawa cowok itu ke tahtanya dan Avara bisa menjadi peri langit lagi?

Senin, 01 November 2010

Tersandung Cinta Tulus


Arakan cinta tak pernah sepi dari nuansa…
Mengalun merdu menyandingi fatamorgana keindahan..
Meskipun insan telah tercipta dengan asa itu…
Mencintai luar dirinya adalah cinta terendah…
ೖೖೖ
“Masih mengingatku?” tanya seorang laki-laki muda berkacamata dan berpenampilan fisik yang sangat menawan itu penuh selidik.
Aku yang baru selesai menangani pasien remaja yang mengalami fraktur, terlonjak kaget mendengarnya. Ini sudah kelima kalinya dia secara tiba-tiba muncul dihadapanku dan selalu bertanya seperti itu.
Huh!
”Aku kan sudah bilang, aku tidak kenal kamu ini siapa. Maksudku sebelumnya, ya aku sudah tahu namamu Hendra Tulus Mahardika dan kamu dokter umum disini. Tapi selain itu aku tidak kenal siapa kau!!” Bentakku kesal dan cepat berlalu dari hadapannya.
Dengan cara apa lagi aku harus mengatakan kalau aku tidak pernah mengenalnya sebelum ini. Apa aku amnesia dan lupa bahwa dia pernah ada dalam hidupku? Yang benar saja, sampai umurku dua puluh tiga ini aku tidak pernah mengalami kecelakaan dan membuat kinerja otak yang bagian frontalis ini terganggu. Aku masih menyimpan semua memori hidupku sebaik-baiknya. Orang aneh itu saja yang mengaku-ngaku sudah kenal denganku sejak lama.
Aku tahu dia sudah sangat terkenal di kalangan paramedis seantero rumah sakit tempatku bekerja ini, meskipun dia baru ditempatkan dua minggu yang lalu. Apalagi kalau bukan karena fisik dan otaknya yang melebihi rata-rata. Ditambah lagi dengan tebengan baleno biru metalik keluaran terbarunya yang ikut menyemarakan pengapnya parkiran rumah sakit. Tapi kan dia tidak semestinya mengerjaiku seperti itu hanya karena aku sangat acuh padanya. Di rumah sakit, paramedis itu tugasnya melayani pasien sebaik mungkin, bukannya sibuk hilir mudik menemani dokter sok ganteng itu.
Aku semakin mempercepat langkah saat dia masih memanggil namaku. Aku berharap semoga dia dicegat beberapa perawat muda dan tidak bisa mengejarku seperti kemarin. Bisa-bisa keluar lagi lahar panas dari tubuhku dan menghanguskan jasadnya seketika.
Brukk!!
”Aw..sakit..duh maaf ya...ini salah saya gak liat di depan. Maaf..anda tidak apa...” mulutku berhenti komat kamit minta maaf saat melihat sosok yang kutubruk barusan. Andi!
ೖೖೖ
Aku hampir saja menjadi seorang guru fisika kalau bukan karena dia. Awalnya dia yang membuat hari-hariku bersemangat. Aku yang hampir gila kuliah di fisika, bisa juga beradaptasi dengan jurusan tersebut. Dan itu karena dia, Andi, mahasiswa teladan yang mau berteman dengan gadis yang tak bisa akur dengan fisika. Aku bahkan tak menyangka bisa mendapatkan IP diatas 3,4 di jurusan yang aku sendiri bingung kenapa bisa jadi mahasiswa disitu. Dan itu karena andilnya si Andi.
Awalnya aku bisa mengatasi rasa cinta pertamaku. Tapi setelah bersahabat setahun lamanya dan selalu bersamanya, mulutku tak bisa bungkam lagi untuk menyatakan cinta pertamaku itu. Dan yang menyebalkan aku masih ingat dengan betul kata-kata bodoh yang kulontarkan saat itu.
”Aku..aku suka sama kamu, An!” kataku tiba-tiba saat kami lagi duduk berdua di bangku bundar taman kampus.
”Oh ya, aku juga suka sama kamu,” jawab Andi santai tanpa melihat ekspresi wajahku yang sudah berubah warna dari biru ke merah. Aku tak menyangka dia membalas cintaku. Tapi kemudian dia melanjutkan perkataannya, ”Kamu teman yang sangat baik, menyenangkan, sedikit heboh, jadinya aku suka menjadi temanmu..”
”Lho, jadi,,,maksudmu?”
”Iya, aku suka berteman sama kamu Ra. Memangnya ke..” Andi tidak melanjutkan kata-katanya saat dia berpaling melihatku. Dan dramatis sekali dia telah melihat ekspresi wajahku yang seperti anak kecil yang ingin meledakkan tangisnya karena ibunya tidak mau membelikan permen kesukaannya.
”Ya ampun, Ra. Jangan-jangan maksud kamu tadi adalah kamu...kamu menyukaiku?!” huh, memangnya tadi aku bilang apa. ”Maafkan aku, Ra. Tapi sayang kamu bukan tipeku. Aku sudah jatuh cinta pada seorang model yang bernama An...”
Ku potong kata-katanya dengan beranjak pergi dari hadapannya. Pengakuan yang sungguh menyakitkan. Wajahku malah tidak berwarna sama sekali menahan kesedihan yang melingkupi perasaanku. Akupun langsung berlari meninggalkan Andi yang masih komat-kamit menolak dan membanggakan gadis itu. Aku salah mengartikan sikap manis Andi selama ini padaku.
Aku bahkan merasa tidak bermuka saat bertemu dengannya saat insiden menyakitkan itu. Apalagi kami berada di satu fakultas, satu jurusan, satu kelas, satu kelompok, dan entah satu perkumpulan apalagi. Sejak kejadian yang menurutku juga memalukan itu aku tak pernah bicara satu huruf pun dengannya. Dan dia juga tidak pernah mendesakku. Hingga kami tak pernah berteman akrab seperti dulu lagi.
Memang kalau aku pikir lagi, aku tak sebanding dengannya. Andi tampan, wajahnya sangat menawan plus menggoda iman, alisnya tebal, bulu matanya lentik nan panjang, bola matanya berwarna coklat yang cerah, hidungnya bangir, dan bibirnya merah merekah-yang menandakan tidak pernah tersentuh barang beracun yang bernama rokok. Ditambah lagi otaknya yang cerdas dan harta bendanya yang menyilaukan mata. Berdiri disampingnya membuatku seperti babu yang tak terpandang, yang baru kusadari saat aku ditolaknya.
Untunglah saat akhir semester dua, mamaku menawarkan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri lagi. Mama merasa bersalah karena telah memaksaku kuliah di jurusan yang sama sekali tidak kuminati. Tanpa pikir panjang, aku pun melepaskan FKIP fisika itu dan menjadi mahasiswa kesehatan jurusan fisioterapi seperti impianku.
ೖೖೖ
”Selamat pagi Nona Ira. Gimana keadaamu pagi ini?” sapa seorang laki-laki tampan itu dengan sopan saat aku baru saja keluar dari tunggangan besiku.
“Pagi!!” sahutku sejutek mungkin. Sebenarnya aku ingin menjawab keadaanku baik-baik saja pagi ini tapi sayang orang yang menanyakannya adalah orang yang menyebalkan bagiku akhir-akhir ini. Mengapa sepagi ini aku sudah harus bertemu dengan si sengak itu!
”Tapi keadaanmu sedang tidak baik, ya?”
”Kalau kamu sudah tahu, kenapa juga nanya-nanya!” jawabku ketus dan cepat meninggalkannya.
”Maaf kalau begitu. Sepertinya kamu gak suka padaku...maaf kalau kamu terganggu dengan kehadiranku tapi benarkah kamu tidak mengingatku lagi?” tandas cowok atletis itu. Dia terus saja bicara tanpa mempedulikan orang-orang yang mulai berdatangan di parkiran rumah sakit dan aku yang mulai menjauh dari hadapannya. Sayangnya aku masih bisa mendengar apa yang dia katakankan. ”Aku ini Tulus, sahabat kecilmu!”
Sahabat kecil? Sahabat kecil dari Vietnam! Sejak kapan aku punya sahabat kecil macam dia. Dulu dia juga mengatakan seperti itu dan sempat terlintas dipikiranku kalau dia adalah Tulus yang gembrot itu.
Hmmm...memang aku punya sahabat kecil dan namanya Tulus pula. Terakhir aku bertemu dengannya saat kelulusan SMP dan perawakannya masih seperti kuda nil. Apalagi wajahnya dulu dikerumbungi jerawatan, bintik-bintik hitam, dan lemak yang bergelantungan. Tulus sahabatku juga badannya pendek dan berantakan sekali. Sampai aku sulit mengungkapkan dengan kata-kata kekucelannya. Kerjaannya cuman makan dan makan. Dari TK sampai SMP, Tulus tidak pernah berubah dan aku tahu dia sangat cinta pada segala jenis coklat melebihi apapun.
Jadi mana mungkin sahabatku Tulus berubah 180 derajat menjadi Tulus yang sekarang ini. Aku yakin sahabatku Tulus tidak akan berubah karena dia sendiri bilang bahwa sangat bahagia dengan keadaannya.
Aku kembali menghembuskan nafas saat berfikir keras seperti ini. Setelah tiba di meja kerjaku, sebuah bingkisan berwarna biru langit telah manis menunggu di sana. Aku tersenyum, bukankah sekarang tanggal 13. dan pasti itu bingkisan dari Tulus.
”Kali ini apa, ya?” gumamku sambil menerka barang yang tersembunyi dari balik kotak itu.
Sejak berpisah delapan tahun yang lalu, Tulus memang selalu hadir dengan surat dan barang-barang menggemaskan setiap bulan tanggal 13. Karena saat tanggal 13 itulah kami berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Aku sering bingung memikirkan dari mana dia tahu alamat kerjaku sekarang. Apalagi Tulus tidak pernah memberikan alamat dan nomor teleponnya sehingga aku tidak bisa membalasnya. Tapi aku sering mengabaikan pertanyaan itu dan cukup senang dengan kunjungan rutinnya ini.
Kubuka bungkusan itu dan mendapati sehelai syal lembut berwarna merah jambu. Aku menyeringit heran. Bukannya aku tidak suka dengan barang pemberiannya tapi selama ini dia selalu memberikan barang-barang berwarna biru langit. Dan ini pertama kalinya dia memberikanku barang dengan warna lain, merah jambu pula. Tapi awan keherannku menghilang saat membaca suratnya. Ternyata sahabatku sedang jatuh cinta, dan ingin menyatakan cintanya pada gadis impiannya sebentar lagi. Si gembrot itu akhirnya bisa juga suka sama seorang gadis, batinku lucu. Baiklah, akan kupakai syal ini sebagai tanda aku ikut bahagia atas cinta yang dilanda sahabatku.  
Kemudian aku beranjak dari meja kerjaku dan berjalan menuju kamar pasien. Tapi tiba-tiba dadaku terasa sesak. Aku teringat kalau hari ini adalah jadwal aku melakukan terapi pada Andin, tunangan Andi. Saat mengetahui dia kecelakaan, ada sebagian kisi hatiku yang bahagia. Kaki sebelah kirinya patah dan tentu saja dia tidak bisa melenggak-lenggok di atas catwalk seperti yang dibanggakan Andi!
Bukannya aku tidak bisa bertindak profesional tapi aku tidak bisa menutupi rasa cemburuku. Meskipun rasa cintaku pada Andi sudah lama terkikis tapi tetap saja gejolak perasaan aneh itu tak mau pergi dari hatiku. Gadis itu beruntung mendapatkan Andi. Belum hilang rasa mangkelku, Tulus sudah menjajarkan langkahnya di sampingku. Aku sendiri bingung, kenapa dia suka sekali hadir di sekitarku tanpa aku bisa mendeteksi kehadirannya!
”Jangan manyun gitu dong, ntar pasienmu takut lagi lihat terapisnya bertampang sangar gitu,”
”Biarin, emang apa pedulimu? Lagian kan kalau bukan karena dia adalah...” suraku tercekat menahan emosi untuk melanjutkan perkataanku.
”Itukan masa lalu. Lagian dia juga pasienku jadi aku juga harus bertanggung-jawab kalau dia kenapa-kenapa,”
”Tunggu dulu, kamu bilang apa tadi? Masa lalu? Tahu apa kamu tentang masa laluku?” cercahku sambil menghentikan langkahnya. Apa dia tahu tentang masa laluku?
”Hmmm, syal yang kamu pakai bagus. Pasti kamu orang yang spesial bagi orang itu sampai dikasih syal secantik ini...”
”Jangan mengalihkan pembicaraan, aku ingin kamu menjawab pertanyaanku!”
”.....”
”Dan...dan darimana kamu tahu kalau syal ini hadiah dari seseorang?” aku benar-benar bingung dengan orang satu ini. Mengapa sepertinya dia tahu segalanya tentangku.
”Ayolah Bi, aku kan sudah bilang kalau aku ini Tulus sahabatmu. Masa’ kamu sudah melupakanku?” akunya yang membuatku dihinggapi perasaan heran.
”Sebentar, kamu panggil aku apa tadi?”
”Bi, Biru. Kamu sendiri tahu kan kalau hanya aku yang memanggil kamu dengan warna kesukaanmu itu? Dan sekarang kamu masih tidak percaya kalau aku ini adalah Tulusmu?”
Aku hampir saja limbung kalau tidak cepat duduk di kursi sampingku. Biru, ya memang hanya Tulus sahabatku yang memanggilku seperti itu. Jadi benar dia adalah Tulus.
”Ta...tapi, Tulus yang aku kenal tidak seperti kamu...” mataku nanar menatap tampang gagah di hadapanku.
”Memanngnya kamu pikir aku tidak bisa berubah, ya? Lagian setiap kali aku ingin menjelaskan, kamu seperti alergi melihatku,”
”Huh, habisnya kamu seperti Andi...”
”Seperti Andi? Aku ini kan dokter bukan dosen, kok kamu bilang seperti dia?” protesnya bingung. Entah sejak kapan dia jadi lemot seperti ini.
”Bukaaan, bukan yang itu. Kamu sekarang sangat tampan, tinggi, atletis, putih bersih, cerdas, dan sangat tajir. Melihatmu, mengingatkanku pada Andi itu. Kalian persis sama...” terangku sambil mencoba menstabilkan emosi yang mulai mengaduk-ngaduk hatiku. ”Dan...dan aku pernah dikecewakan olehnya... dia tidak pernah mencintai gadis biasa sepertiku. Dan aku yakin semua cowok seperti dia pasti hanya menyukai gadis yang sebanding dengan mereka, setipe fisik dengannya..” kataku dengan sekuat tenaga menahan air mata yang ingin menari-nari di kelopak mataku. Mengingat apa yang pernah dikatakan Andi dulu.
”Biru..kenapa kamu sampai punya pikiran seperti itu? Aku pikir kamu gadis yang realistis,Bi. Yang kutahu dulu kamu tidak pernah menyamakan semua orang dengan sosok yang pernah mengecewakanmu...”
”Sok tahu!! Darimana kamu tahu tentangku setelah lama tidak bertemu?”
”Kamu pikir aku tidak bisa menyewa intel untuk mengawasimu setiap saat, ya? Bahkan aku juga tahu kamu pernah minggat dari FKIP terus akhirnya kuliah dan bekerja sebagai fisioterapis di rumah sakit ini. Dan gimana susahnya aku menolak beasiswa universitas supaya bisa bekerja di sini untuk bertemu denganmu lagi....”
”....”
”Dan tentang Andi..aku tahu kamu pernah merasa dikecewakan olehnya tapi aku gak tahu kalo kamu menyamakan semua perasaan laki-laki lain yang kamu lihat sama seperti dia..”
”Humph...ya kamu itu sama saja. Memang aku gak lihat kamu yang tuap hari dikerumunin perawaperawat yang cantik itu, hah?”
”Aku tidak pernah ingin diperlakukan seperti itu, Bi. Memangnya kamu gak lihat tampang meranaku saat kondisi kaya gitu? Tujuanku disini selain mengabdikan diri pada masyarakat juga karena aku ingin bersamamu lagi. Tahu gak, sejak kamu bilang kamu ingin melihatku menjadi cowok yang menawan aku mati-matian merubah total penampilanku seperti sekarang ini. untung aja aku gak tergoda untuk menjalankan operasi plastik segala!! Tapi anehnya, saat aku udah seperti yang kamu inginkan, kamu malah melihatku seperti anjing yang kudisan. Memangnya kamu pikir aku gak tersiksa diperlakukan kayak gitu...”
”Maaf...maaf sebelumnya....tapi untuk apa kamu melakukan semua itu? Aku ini bukan gadis cantik seperti Andin...” ringisku mengingat Andi yang lebih memilih model itu ketimbang aku.
”Kamu itu....kamu....kamu cinta pertamaku, Bi. Aku tidak pernah silau melihat fisik seseorang sebagai salah satu alasanku menciintaimu. Aku mencintaimu karena hati dan sikapmu yang sesuai dengan keyakinanku. Bukankah fisik itu adalah sesuatu yang fana, Bi? Jadi buat apa aku mencintaimu atas dasar itu!! Aku bahkan sudah menyukaimu sejak kita SMP. Aku sadar kamu berbeda dengan gadis sebayamu yang sudah kecentilan saat itu..”
Aku hanya menghela nafas panjang mendengar penuturannya yang seperti menghinaku. Tulus benar. Kenapa dulu aku harus mencintai seseorang karena fisiknya? Sejak kapan hatiku buta dan menganggap fisik adalah syarat mutlak dasar untuk mencintai seseorang? Dan kenapa aku tidak adil dengan menganggap Tulus seperti Andi...
”Kalau gitu, kamu kembali menjadi Tulus yang gembrot aja. Aku kan gak mau mencintai seseorang dari fisiknya lagi...” kataku sambil memperbaiki espersi wajahku yang berantakan.
”Biruuu..kamu jahat banget sih....kan gak mesti aku harus kembali ke wujud semula supaya kamu mau menerima cintaku. Bukankah lebih menyenangkan kalau hati dan fisikku sama-sama menawan? Jadi kamu dapat bonus,he..” canda Tulus yang berhasil membuat kinerja otot zigomatikus minorku berfungsi lagi. Aku hanya menggelengkan kepala menyikapi sifat narsis Tulus ini. tapi yang lebih penting ruang hatiku sudah mengembang lagi. Seribu bunga mawar sudah berhamburan di dalamnya.
Aku berdiri dan Tulus mengajakku melanjutkan pekerjaan kami yang sempat tertunda. Hingga diambang pintu kamar pasien, wajahku masih merona merah menanggapi respun hatiku tentang tawaran cinta Tulus.
”Jangan senyum-senyum sendiri. Ntar pasien ngeri lagi lihat mukamu itu!” canda Tulus lagi sambil menggerakkan engsel pintu di depannya. Tak elak hampir kulayangkan tinjuku ke lengannya seandainya aku tudak melihat Andi dan Andin yang melonggo melihat kedatangan kami.
”Oh...eh maaf membuat kalian lama menunggu,” kataku sambil menyembunyikan tangan kananku yang telah menyentuh jas putih Tulus.
 ”Iya, kami minta maaf. Tadi kami ada sedikit urusan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi,”
”Tidak....tidak apa kok Dokter. Saya juga barusan selesai sarapan kok....” jawab Andin bersikap manis yang dibuat-buat yang membuat perutku mulas. Selain kakinya, sepertinya mukanya juga harus kuterapi sekalian biar berfungsi wajar!!
”Iya kok Dok. Mmm, jadi yang akan menerapi Andin...”
”Oh ya  maaf. Saya lupa bilang kemarin. Ini Ayra Swelya, dia yang menjadi fsioterapis saudari Andin,”
”Ya, saya sudah mengenal Ayra sebelumnya tapi saya tidak menyangka kalau dia yang akan menjadi terapisnya Andin. Dan maaf, sepertinya kalian sangat akrab, ya?” cercah Andi yang membuatku jengkel. Lagian aku tidak pernah meminta Andin yang menjadi pasienku dan sekarang dia malah berkomentar tentang keakrabanku dengan dokter muda disampingku. Aku sudah hendak memuntahkan argumenku saat Tulus tiba-tiba sudah berkoar dengan bangganya..
”Tentu saja kami sangat akrab dan kompak. Duel antara dokter dan fisioterapis yang sangat serasi bukan! Dan saya juga ingin menyampaikan kalau fisioterapis Ayra ini adalah calon istri saya..” sesaat kemudian semua langsung hening dan sedetik kemudian setelah aku bisa mencerna maksudnya aku merasakan ada kupu-kupu yang menari salsa di perutku. Dan suasana ruangan putih itu telah bercampur sejuta rasa.
Surakarta, 01 November 2010

Lingkaran Taman Hati JeLo

Ya Allah, jika aku jatuh cinta.....                   
Cintakan aku pada seseorang.....
Yang melabuhkan cintanya pada-Mu.....
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.....
ೖೖೖ
Di SMA Nusa Bangsa, siapa yang tidak kenal pasangan ini. Mereka terkenal layaknya Jack dan Rose, Romeo dan Juliet, Marc Antony dan Celeopatra, atau pastinya Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Bukan karena pengorbanan cintanya juga sih tapi karena kemesraan mereka, waduh! Tapi begitulah. Hampir semua orang yang melihat pada iri dengan kemesraan mereka. Entah di kelas, di perpustakaan, di lapangan basket, di laboratorium, bahkan di ruang guru, mereka selalu bersama-sama.
Ajelia Pirakha dan Relon Zevlon itulah nama pasangan yang lagi kejangkitan VMJ. Atau biasa di sapa  JeLo, bukan singkatan Jeniffer Lopez tuh, tapi dari Jela dan  Elon . Mereka adalah siswa kelas XII IPA 1 yang terkenal layaknya artis ibukota. Yang membuat mereka tambah istimewa adalah prestasi mereka di bidang akademis dan olahraga. Hampir semua piala dan tropi menjadi milik mereka. Langganan setiap ada event-event seperti olimpiade sains, debat nasional, karya ilmiah. Pacaran sih pacaran tadi kalau di dalam kelas jadi rival be number one!!
“Je sweety, hari ini pulang bareng kan?” kata Elon setelah mereka selesai memimpin rapat OSIS.
”Iya dong Lon, tapi ke toko buku dulu ya? Aku pengen beli buku terbarunya Andrea Hirata nih,” kata Jel yang begitu menyukai buku-buku penulis Indonesia yang berbakat itu.
”Assalamu’alaikum JeLo,” kata seseorang cewek berkerudung yang tiba-tiba memasuki ruangan OSIS.
Reni, bendahara I OSIS di SMA Nusa Bangsa. Dia cewek yang sangat anggun, supel, berwibawa, dan baik hati tentunya dengan balutan kerudung yang lebar. Begitu penilaian Jela terhadap cewek yang satu kelas dengannya itu. Meskipun sering banget mendakwahi JeLo, tapi pasangan itu tidak pernah canggung saat berduaan seperti sekarang.
”Wa’alaikumssalam”
”Je, besok hari minggu ada acara gak?” kata Reni yang segera menghampiri Jela ketika merapikan alat tulisnya yang masih berserakan.
”Mmm, kayaknya gak ada tuh Ren. Ada apa ya?”
”Kamu mau gak ikut pengajian? Ceramahnya bagus banget lho, buat anak muda kayak kita gini...”
Sedetik kemudian dia langsung mengerling Elon. Minta persetujuan mungkin. Ikut pengajian? Ceramah? Heh. Yang bener aja. Mereka... emang muslim sih tapi cukup tahu melaksanakan sholat dan ibadah wajibnya seperti puasa Ramadhan. Itu pun diberitahukan saat ngaji di TPA waktu kecil.
Maklum lah orang tua mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing. Urusan anak diserahkan sepenuhnya dengan pembokat yang udah lama mengabdi pada mereka. Syukur-syukur pembantunya alim dan bisa mengarahkan anak tuannya ke jalan yang benar.
Mereka senyum-senyum sendiri karena selama ini gak sekali pun mengikuti acara siraman rohani seperti ajakan Reni tersebut. Mungkin karena itu jua lah Reni giat sekali ingin mengajak pasangan serasi ini. Tapi demi dakwah, Reni tidak pernah bosan mengajak mereka sekedar mendengar ceramah ustad sekali seminggu itu.
”Gimana? Kalau kamu ada kesibukan gak apa-apa kok. Aku cuman nawarin aja...” meskipun dalam hati Reni sangat berharap pasangan ini mau insaf.
”Mmmm. Boleh juga tu Ren,” kata Je tiba-tiba sebelum Reni melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Akhirnya!!!
”Tapi Elon boleh ikut gak?”
÷÷÷
Dan jadilah sekarang Jela dan Reni mendengarkan ceramah di pagi Minggu yang cerah. Di sebuah gedung pengajian yang besar. Memiliki empat lantai yang begitu konsentris dan terstruktur apik. Dengan dekorasi timur tengah yang begitu kental di dalamnya. Melihat pemandangan ruangan di dalamnya saja mampu membuat hati Jela tenang. Jauh ketika dia berada di rumah. Meskipun rumahnya jauh lebih megah di bandingkan tempat yang kini dia berada.
Rasa rindu yang selama ini membuncah di kalbunya saat duduk bersama muslimah-muslimah yang lain. Begitu tenang bergumul dengan saudara seiman. Dan itu semakin terobati ketika dia mendengarkan sang ustadz menerangkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu yang dia miliki. Begitu tentram perasaan Jela saat itu. Melebihi saat dia berhasil menjadi pemenang olimpiade Matematika tingkat internasional bersama Elon beberapa waktu yang lalu di Yunani. Saat itu mereka berdua mewakili Indonesia untuk bertanding dengan para pelajar di belahan bumi lain. Perasaan bangga sebagai pelajar. Tapi perasaan ini melebihi dari itu. Entah apa.
Dan saat ustadz menjelaskan sebuah ayat tentang hubungan perempuan dan laki-laki. Tiba-tiba dada Jela tercegat mendengarnya. Ayat tersebut menjelaskan agar perempuan dan laki-laki muslim selalu menjaga pandangannya. Menahan dan menghilangkan perasaan suka yang mereka alami, apabila tak sanggup mengelolanya. Di dalam Islam tidak ada istilah pacaran sebelum adanya pernikahan!!! Karena perbuatan tersebut sudah memasuki zona zina...
Kembang kempis dada Jela mendengarnya. Sesuatu yang tidak pernah didengarnya. Kalau pun pernah di dengarnya saat pelajaran agama, sudah langsung minggat tanpa mampir dulu ke otaknya. Lagian bagaimana mau tahu, kalau kegiatan rohis di sekolah saja dia malas mengikuti. Tapi, salahkah apa yang pernah dilakukannya dengan Elon sejak lima tahun lalu? Mereka sudah lama berpacaran. Banyak hal-hal yang mereka lakukan bersama. Mereka tidak pernah menjaga pandangan. Berpegangan tangan sudah menjadi hal yang lumrah yang mereka lakukan. Cipika-cipiki apalagi. Meskipun belum dalam taraf yang semakin berani tapi....
Mungkin hidayah itu telah dihadirkan Allah ke hatinya. Jela langsung menunduk. Dia menangis. Reni membiarkan saja Jela yang mulai mengeluarkan airmata.
Syukurlah kalau dia sadar.
Memang itu tujuannya membawa Jela ke sini. Dulu sudah sering dia mencoba menasehati tentang perilaku mereka yang kelewat mesra. Tapi tak pernah digubris sedikitpun. Berbagai cara sudah dilakukan Reni tapi hasilnya selalu nihil. Makanya dia bersyukur sekali saat Jela bersedia menerima tawarannya ini. Paling tidak mereka tahu bahwa yang selama ini mereka lakukan gak bener!!
Perlahan di usapnya kepala Jela yang berbalut selendang itu. Mencoba menyakinkan bahwa semua ini belum terlambat. Masih ada hari esok untuknya buat memperbaiki diri. Memohon ampun atas segala kekhilafan yang pernah dilakukannya-yang mungkin itu semua hanya karena ketidaktahuannya. Setelah selesai, Elon memberitahu Jela bahwa dia tidak bisa bertemu Elon. Dia ingin cepat pulang. Begitu pula Jela. Mungkin mereka ingin mengintropeksi diri masing-masing. Syukurlah kalo akhirnya mereka sadar, batin Reni.
÷÷÷
SMA Nusa Bangsa gempar. Hampir semua siswa membicarakannya. Entah di ruangan kelas, di kantin, di lapangan basket, di toliet, bahkan di ruangan guru. Bahkan diumumkan lewat mading sekolah dengan huruf cetak yang besar dan tebal. What happen sih? Sebenarnya beritanya gak terlalu bermutu sih, tapi begitu penting bagi warga SMA ini-katanya.
JeLo PUTUS!!!
Wow, ternyata itu? Emang heboh, apalagi bagi mereka yang sangat mengidolakan pasangan yang sangat serasi luar dalam ini. Bagaimana bisa ikatan cinta di antara mereka bisa patah tanpa sebelumnya sempat bermasalah. Baru kemarin bergelayutan mesra di kantin Mpok Tira kok besoknya putus? Well, ada yang mencoba mewawancara dan jawaban mereka kompak pula. Ingin menjauhi ZINA!!!?
Ada yang mengerti?
Di sudut taman sekolah tersungging senyum syukur seorang gadis berkerudung. Akhirnya perjuangannya selama hampit tiga tahun ini tidak sia-sia. Meski banyak tudingan miring yang diarahkan padanya ihwal putusnya pasangan JeLo pasti ada andilnya juga. Toh, ini untuk kebaikan kok.
Rutinitas pun dilakukan semua siswa seperti biasanya. Di tambah begitu mencekam karena menunggu detik-detik Ujian Nasional. Pada banyak yang alim deh pegang buku semua. Di simpan dalam peti dulu barang kesayangan kayak Hp, PS, i-Pod, bahkan dompet. Tapi tidak begitu dengan JeLo. Mereka adem ayem saja. Tidak lama setelah putus sama Elon, sekarang Jela sudah pake kerudung. Dia mulai mengerti untuk menutup auratnya sebagai seorang cewek Islam.
Saat ini Jela lagi di perpustakaan membaca ulang pelajaran Biologi kelas X. Terbesit sesuatu. Masih segar di ingatannya terakhir kali dia bicara berdua dengan Elon, sebelum mereka menghadapi Ujian Nasional dan akhirnya tak pernah bertemu lagi selepas SMA...
”Lon, aku pengen putus. Aku sadar selama ini yang kita lakukan salah. Tidak ada manfaatnya selain dosa. Kamu dengar sendiri kan kata ustadz itu kalo di dalam Islam tidak ada istilahnya pacaran sebelum nikah? Itu udah jelas tertulis di dalam kitab suci kita Lon.... Aku takut sama Allah. Lebih baik kita berpisah saja daripada melakukan hubungan yang gak ada dalam syariat agama....” ujar Jela panjang lebar. Mereka sama-sama menunduk. Udah gak berani berpandangan.
”Iya, kamu benar Je. Udah tidak seharusnya seperti ini. Aku emang masih sayang banget sama kamu tapi aku gak mungkin bisa nikah sama kamu sekang ini. Dan pacaran bukan jalan yang murni untuk mengukuhkan cinta kita. Aku rela berpisah denganmu demi agamaku. Demi Allah...” kata Elon mantap. Meskipun semalaman dia harus tumpah airmata saat memutuskan semua ini.
”Sama Lon, aku juga ikhlas harus berpisah sama kamu demi Allah. Semoga ini menjadi yang terbaik untuk kita...” kata Jela sambil melangkah pergi meninggalkan Elon. Melepasnya dengan ikhlas. Perpisahan cinta dua anak manusia yang begitu saling mencintai. Berpisah karena mereka akhirnya lebih takut pada Tuhannya ketimbang takut kehilangan orang yang dicintainya....
÷÷÷
Musim kemarau telah berlalu, silih berganti dengan pasangannya yang sejati di daerah tropis. Musim hujan. Siap mengisi kekeringan tanah tempat para insan berpijak. Seperti musim hujan yang keberadaannya menyejukkan petani, begitu pula lah Al-Qur’an yang menyejukkan mata hati Jela....
Hari ini dia sangat bahagia, beberapa detik lagi dia akan wisuda. Ya, dia telah menamatkan pendidikan strata satunya di fakultas kedokteran ini. Di sebuah universitas terkemuka di Indonesia. Cita-citanya menjadi seorang dokter telah menjadi kenyataan. Dia berjanji menolong masyarakat miskin yang tak mampu berobat, menolong sesama yang membutuhkan tanpa pamrih, seperti sumpah dokter yang sebentar lagi akan diikrarkannya. Begitu banyak mereka diluar sana yang menanti uluran tangannya.
Setelah acara wisuda, Jela sekeluarga berkumpul di rumah untuk merayakan kelulusannya. Semua orang bangga padanya. Terutama orangtuanya yang selama ini sangat mengharapkan keberhasilan anak semata wayang mereka. Saat itu pulalah datang ustadzah yang selama ini menjadi guru ngajinya.
”Selamat ya Sayang, akhirnya jadi Dokter!!!” katanya lembut begitu Jela memeluknya.
”Terima kasih Mbak, ini juga support dari Mbak supaya aku jangan pantang menyerah menjalani kuliah yang berat ini....”
”Ah, kamu ini. Oh ya, ada yang ingin Mbak bicarain nih. Hanya berdua.”
”Begini Je, kamu kan sudah lulus kuliah. Jadi sudah saatnya kamu mulai memikirkan tentang seseorang untuk menjadi pendamping hidupmu kelak...” kata Mbak Zahra bijak yang sontak membuat Jela tertegun. Selama ini dia tak pernah memikirkan masalah itu.
”Tapi Mbak, aku belum punya calon...!”
”Mbak tahu, makanya Mbak bilang ini. Ada seorang pengacara muda yang minta dicarikan istri kepada suami Mbak. Laki-laki itu juga berguru pada suami Mbak. Meskipun dia kuliah di luar negeri tapi komunikasinya selalu jalan dengan kami selepas dia SMA. Dia sangat percaya suami Mbak akan mencarikan pasangan yang tepat untuknya. Mbak jadi kepikiran sama kamu. Agamanya bagus, itu yang terpenting dari cowok ini Je. Mbak yakin dia akan menuntut kamu ke jalan yang lurus. Masalah yang lain kamu jangan khawatir. Tampang dan pekerjaan tidak perlu diragukan lagi dari laki-laki itu. Tapi semuanya memang tergantung sama kamu juga...” kata Mbak Zahra yang begitu yakin dengan pilihannya untuk Jela.
Lama Jela terdiam. Sebenarnya dia belum ingin memikirkan tentang masalah pernikahan, apalagi dia barusan lulus kuliah. Dia masih ingin mengejar karir dengan pekerjaan idamannya ini. Dia ingin menjadi dokter yang handal dan membantu masyarakat lemah yang banyak sakit tapi minim biaya seperti yang banyak terjadi  sekarang. Tapi berat baginya menolak tawaran Mbak Zahra. Mbak Zahra juga pernah berpesan kalau menikah di waktu muda sangat dianjurkan Rasulullah. Menghindarkan dari fitnah. Mungkin karena itu Mbak Zahra tidak ingin membiarkannya lama-lama sendiri.
”Mmmm, baiklah Mbak.... aku niatkan pernikahan itu untuk beribadah kepada Allah ta’alla. Mungkin jodohku sudah sampai...” kata Jela ikhlas.
”Syukurlah kalo begitu. Mbak tahu kamu pasti akan memutuskannya dengan bijak. Sebenarnya orangtua kamu sudah Mbak bicarakan tentang ini dan mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan ke kamu. Kalo sudah begini, tinggal kita atur jadwalnya. Oh ya, apa kamu mau diperkenalkan dulu dengan calon suami kamu? Kita ta’aruf dulu. Gimana?”
”Gak usah aja Mbak. Aku yakin kok pada keputusan Mbak dan suami. Yang terpenting agamanya bagus. Itu udah cukup bagiku...”
Dan... sebulan setelah itu, akad pernikahan Jela dan calon suaminya pun di laksanakan. Bahkan Jela tidak tahu nama laki-laki yang akan membangun mahligai suci rumah tangga dengannya. Baginya siapapun laki-laki itu tidak terlalu penting. Dia yakin Allah pasti memberikan yang terbaik untuknya. Dia percaya firman dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa perempuan baik pasti akan diberikan pada laki-laki yang baik pula. Tak ada keraguan baginya terhadap kalimat tersebut.
Dan disini lah dia sekarang, berjalan menuju penghulu dan laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak. Setelah duduk dengan rapi penghulu pun mulai memegang janji  akad nikah yang akan diucapkan oleh sang mempelai laki-laki...
”Saya terima nikah dan kawinnya Ajelia Pirakha binti Akhmad Syam dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!!” kata mempelai laki-laki ini mantap.
”Sah para hadirin?”
”SAH!!!” jawab mereka serentak.
”Akhirnya aku sah menjadi seorang istri sekarang,” syukur Jela dalam hatinya. Setelah berdoa, sekarang giliran Jela untuk mencium tangan laki-laki yang telah sah menjadi suaminya. Ada kelembutan dan kehangatan yang langsung merasuk ke jiwa Jela ketika mencium tangan kokoh itu. Perasaan hangat yang dulu selalu menemani langkahnya, sebelum mendapatkan rengkuhan kasih sayang Allah. Tangan yang dulu mampu menegarkan hari-harinya untuk bersemangat mengarungi kehidupannya yang indah, sebelum tebaran cinta Allah melingkupi hatinya.
”Astagfirullah!! Kenapa aku malah kepikiran orang lain saat aku beberapa detik lalu telah mempunyai suami?!!” hardik Jela pada dirinya sendiri karena membiarkan mengingat kembali masa lalu yang sudah disimpan rapat di peti emas hatinya.
Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat suaminya!!! Dia pun tidak sanggup menahan kegembiraan yang meletup-letup memenuhi batok kepalanya. Bukan dosa ketika beberapa saat yang lalu dia membayangkan sosok itu. Jela pingsan saat mengetahui bahwa suaminya adalah.......Elon!!!
Cinta yang berakhir indah dari sepasang keturunan Adam. Cinta yang harus berpisah karena Allah, kini bersatu karena Allah jua lah yang menyatukannya. Mereka bersatu karena iman yang melingkupi hati dan sanubari mereka. Bahkan sebelum akad nikah berlangsung Elon juga terkejut setengah mati saat tahu kalo perempuan yang akan menjadi istrinya adalah....Jela. Cinta pertamanya dulu...
Surakarta, 06 Mei 2010

Minggu, 31 Oktober 2010

Bintang Hati

Saat jiwa memacu syahdunya cinta, dia kugegam erat…
Dan dekapan bayangan sukmanya
hingga berbentuk bintang hati.....
Tapi ruang untuk dia pergi berarak lirih dirangkulanku....
≈≈≈
 “Za, ada yang nitip salam buat kamu, nih!!”
“Siapa?” jawabku cuek sambil mencoret kertas folio. Mencoba menggambar dengan benar jaringan kalenjar saliva seperti di diktat kuliah.
“Pokoknya Kamu bakal terkejut deh, dia cowok paling populer di kampus kita. Aku juga terkejut saat dia bilang kalau suka sama kamu”
”Siapa sih?”
”Dia cowok paling T.O.P be-ge-te deh. Gak ada cewe yang gak kenal bahkan gak demen sama dia!!!”
“Iya siapa? Bikin penasaran aja!”
”Iya siapa Rei?” sambung temanku yang lain penasaran. Saat kami berempat lagi kumpul di taman kampus yang asri untuk ngerjain tugas mata kuliah Histologi. Ini bukan ngerjain tugas lagi namanya
”Kak Diioooonnnnnn!!!” teriaknya kuueenceng banget.
”Apa??!!” balas teriakan dua temanku yang lain.
”Kenapa sih? Segitunya respon kalian?” tanyaku bingung. Sampai masih ada yang mangap mereka. ”Dion? Siapa dia?” kataku garuk-garuk kepala yang gatal. Sesaat kemudian mata semua temenku langsung melihatku aneh.
”Za, bener Kamu gak kenal sama Kak Dion?” kata Ceny gak percaya.
”Iya Za, Kak Dion yang cakep itu, yang keren itu, yang ketua senat itu, yang idola kita semua!!!” kata Iva histeris.
”Cowok yang dulu pernah kamu tampar pas ospek Za...” kata Rei melengos melihatku rupanya belum selesai dari alam pencaharianku.
Shettt!
Pernah kutampar? Mmmmm, apa mungkin cowo itu?
Saat itu kami lagi menghadapi suasana ospek yang bener-bener gak bersahabat buat mahasiswa baru. Semua tegang. Setelah acara penerimaan mahasiswa baru diresmikan oleh rektor, para kakak tingkat udah mempunyai cara sendiri-sendiri untuk mengerjai kami. Mereka semakin menjadi-jadi kalau kami melakukan kesalahan. Disuruh cium kodok lah, peluk pocong lah, gendong mayat lah, bahkan cium mayat yang barusan beberapa jam yang lalu dilindas truk!! Apes banget ya ospek di fakultas kedokteran ini...
Nasib sial itu pun mangkir juga ke arahku. Saat itu kami semua di suruh kakak tingkat berkacamata yang sangar itu membawa cacing satu kilo. Pas di rumah aku udah nimbang di takaran dan berat binatang mengeliat merah kecokelatan itu menunjukkan angka satu kilo. Tapi udah nyampe di kampus, saat di timbang lagi berat nya kelebihan satu ons!!
Dan jadilah Aku termasuk barisan yang dihukum. Langsung aja Aku diserahkan ke kakak tingkat yang akan menghukumku. Dia seorang cowok tinggi tegap dengan wajah oriental yang sering aku lihat di majalah Asians. Tapi mukanya sama juga gak kalah sangarnya dengan teman lainnya yang sadis. Tapi anehnya, teman-teman yang senasib dihukum gak ada yang takut kayak tadi. Malah muka mereka pada kesemsem gak jelas. Huh!! Saat itu Aku dapat giliran paling terakhir dan berbeda dengan yang lainnya. Mereka yang lain di suruh lari-lari keliling lapangan tiga kali sambil nenteng tikus yang barusan mati. Yak!! Aku bingung saat Aku gak disuruh ikutan.
”Kamu dapat hukuman yang lain!!” katanya sangar sambil menatapku aneh.
Dan begitu teman-temanku selesai dengan hukuman. Kakak itu menyuruhku mencium kakinya yang dijejeri bayi tikus yang masih merah. Aku langsung sontak kaget mendengarnya. Maksudnya apa? Aku bisa saja mencium bayi-bayi tikus tapi di depan kakinya? Betul-betul kurang ajar. Belum sempat dia melanjutkan perintah gilanya.
Plak!!!
Tamparan itu sukses mengenai mukanya yang babu face itu. Rasain!!!
”Jangan harap Aku mau menuruti perintah konyol Kamu ya? Memangnya Kamu pikir Aku ini apa sampe nyuruh cium kaki yang bentuknya aneh itu. Hah!!” gertakku setelah puas menamparnya. Kulihat dia meringis sambil menyeka darah yang mulai mengalir dari pipinya. Bagusnya lagi semua mata langsung terhenti dan menoleh ke arah kami dengan pandangan yang susah aku mengerti.
Aku tersenyum sendiri saat teringat kejadian yang sebenarnya menyebalkan bagiku. Tapi sekarang lebih lucu untuk diingat. Lumayan juga membuatnya jera memeperlakukan adik tingkat dengan tidak semena-mena!! Tapi Aku sempat takut masuk kampus keesokkannya. Jangan-jangan dia udah menyiapkan sesuatu untuk membalasku. Apalagi sesaat setelah menamparnya, Aku baru tahu kalau dia ketua panitia ospek di fakultas kedokteran. Bisa saja dia mendepakku. Tapi semua ketakutanku gak terjadi. Semua berjalan dengan semestinya. Meski banyak yang merespon negatif tindakanku.
Lagian dia sama sekali gak menggugat. Aku juga gak sudi minta maaf lebih dulu padanya. Dan sekarang, dia malah suka padaku? Jangan-jangan dia cuman mau balas dendam.
”Bilang aja makasih!” jawabku cepat ke Rei. Ya, dia pasti mau balas dendam atas sikapku, pura-pura suka padaku segala. Padahal ingin menerkamku dari belakang!
≈≈≈
Pohon pinus yang meneduhkan, lamat-lamat melambaikan daunnya yang sangat kecil jamak. Menghindarkan semua insan dari sengatnya matahari yang megah-megahnya menampakkan diri. Disana, di taman yang menyejukkan mata yang memandang. Duduk dengan serius seorang cowok sambil melumat buku kuliahnya. Poninya yang melewati dahi, melambai-lambai seakan ingin berebut perhatian pemiliknya yang mempesona. Tanpa disadarinya, banyak mata-mata pengagum. Menikmati setiap bagian wajah yang diukir dengan indah oleh sang Maha Indah.
Dia sibuk berkutat dengan hapalan pelajaran mata kuliah Parasitologinya. Dari dulu gadis-gadis itu selalu mengejarnya tanpa bosan. Mata mereka saat melihatnya penuh dengan perasaan suka yang membuatnya gerah. Dia seperti bahan tontonan semu mereka pemuja keindahan fisik. Semua diacuhkannya. Tak pernah bergeming hatinya saat semua gadis-gadis itu menggunakan beragam cara untuk menakhlukannya. Baginya begitu rendah harga diri seorang cewek yang mendekatinya. Alasan emansipasi kata mereka.
Cantik juga bukan jaminan hatinya bisa terpaut. Dia malah sangat aneh melihat wanita yang berbondong tampil cantik dengan berbagai treatment kecantikan yang sebenarnya pasti sangat menyiksa mereka. Padahal semua wanita itu cantik kalau mereka bisa mensyukuri semua yang diberikan padanya. Hidupnya selama ini hanya terpaku pada kuliah dan organisasi. Tapi semua itu berubah saat dia mendapat tamparan itu. Tamparan cinta menurutnya. Karena pamling saja, sejak ditampar oleh mahasiswi baru itu, dia seperti dihipnotis panah asmara. Banyak temannya yang mengecam tindakan itu, tapi dia malah sebaliknya. Apalagi dia yang terkenal galak, sekarang berubah menjadi pria lembut yang sangat peka dengan sekitar. Dia menjadi murah senyum dan selalu menegur siapa saja. Yang bahkan dulu sangat anti dilakukannya. Cinta memang bisa membuat korbannya menjadi bukan dirinya lagi. Gadis yang sangat berbeda. Gadis yang baginya mempunyai nilai harga diri yang tinggi. Inilah yang dia cari.
Tapi sayang, sikap acuh dan ketus itu membuat nyali Dion turun satu oktaf. Sering dia mencoba tersenyum dan menyapa gadis itu. Tapi sikap benci yang disuguhkan untuknya. Tak mengapa. Bisa melihatnya setiap hari sudah membuat laki-laki keturunan darah ningrat itu senang. Tapi setelah setahun memendamnya, perasaan itu semakin membuncah di dadanya. Mengambil alih kendali kinerja otaknya. Semua menjadi amburadul saja kalau dia tidak bertindak. Tapi bagaimana caranya? Ini pengalaman pertamanya. Jadilah dia, meminta bantuan Rei, sahabat karib gadis pujaannya. Rei adalah adik sahabatnya, membuat urusan ini mudah, batinnya.
”Rei, jadi gimana? Kamu bisa bantu kan?” pinta Dion tanpa basa basi. Sukses bikin Rei terkejut saat abangnya bilang kalau Dion sangat menyukai Zahra. Sempat dia cemburu dan kecewa, tapi dia sportif dengan keputusan Dion menyukai sahabatnya. Seperti haknya juga menyukai Dion.
”Ok deh Kak, entar Aku coba dulu ya. Soalnya...” suara Rei menggantung. Bakal sulit nih, batinnya. Bagaimana tidak kalau Zahra sangat membenci Dion sejak ospek.
”Kenapa Rei?”
”Enggak apa-apa kok. Pokoknya Aku usaha’in yang terbaik deh buat Kak Dion...” cukup mengukir senyum menawan di wajah Dion.
Dan jadilah, dengan berbagai cara dilakukan Rei supaya Zahra mau membuka hatinya untuk  Dion.
”Emangnya Kamu dibayar berapa sih sama si sengak itu? Giat banget comblangin Aku. Aku udah berapa kali bilang. Aku gak suka sama dia!!!” pekik Zahra saat kesekian kali Rei melakukan aksinya. Dia hampir putus asa, kalau gak teringat dengan senyum menawan itu.
”Kenapa harus Zahra sih yang disukai cowok yang nyaris perfect kayak Kak Dion!” protes Rei setiap usahanya menemui jalan buntu.
≈≈≈
”Za, kalau udah selesai kuliah, temuin Kakak di taman rumah sakit ya?” pinta seorang cowok di telpon padaku.
Dion. Akhirnya hatiku melunak juga. Persangkaan itu ternyata nihil. Dia benar-benar tulus menyukaiku. Tentu dengan bukti yang akurat. Kusuruh dia memploklamirkan perasaan cintanya sentero kampus.
”KEPADA KALIAN SEMUA, YANG MENJADI SAKSI ATAS PERKATAAN JUJURKU INI. DENGAN INI AKU MENYATAKAN BAHWA AKU MENCINTAI AZ-ZAHRA DEVIKA DARI DASAR HATIKU YANG PALING DALAM. PERNYATAAN INI AKU KATAKAN SEJUJURNYA. ZAHRA, AKU CINTA PADAMU!!!” teriak Dion lantang berdiri di lapangan kampus dengan suara yang menggema sambil menenteng fotoku ukuran setinggi badannya. Cinta ternyata telah merusak akal syarafnya yang cerdas. Aku berdiri ditengah kerumuman mahasiswa lain yang melengos dengan sikap ketua senat kampus itu. Aku tersenyum senang dan meninggalkannya dengan puas.
Ternyata itu belum apa-apa, banyak pengorbanan lainnya yang membuktikan cinta itu. Antar jemput sudah menjadi hal yang lumrah dilakukannya. Semua tugas kuliahku terbantu dengan otak cerdasnya. IP-ku selalu diatas 3,5 sampai aku lulus di kedokteran dengan cam laude dan menjadi Co-aas sekarang ini. Kost, kuliah, dan keperluan sehari-hari dia penuhi dengan hartanya yang melimpah. Meskipun betapa hebat kumenolak kebaikannya. Dia ingin belajar menjadi suami yang bertanggung jawab, katanya. Lucu. Selama hampir lima tahun ini aku lewatkan setiap hari dengannya. Tak pernah duka menghampiriku saat bersamanya. Memang aku tak pernah menyatakan diri menerima dia sebagai pacarku, dia tersenyum karena dia sudah mengkhitbahku sebagai calon istrinya.
”Kamu bagiku udah soulmate, melebihi pacar.” kata Dion mantap. ”Calon istriku...” bisiknya lagi saat kami lagi menikmati semilir angin di taman rumah sakit pemerintahan ini.
Dia sekarang seorang residen, calon mahasiswa spesialis syaraf. Dulu setelah lulus, banyak sekali tawaran beasiswa S2 di luar negeri untuknya. Tapi tidak pernah dia terima, dia memutuskan meneruskan pendidikan di negeri sendiri. Alasan keduanya karena pendidikan di Indonesia sudah lebih bagus. Alasan pertama, karena aku tentu saja. Aku sekarang menjalani tahun keduaku sebagai Co-ass. Meskipun kami praktek di rumah sakit yang berbeda komunikasi masih sehangat dulu. Besok adalah bulan terakhirku menjadi Co-ass dan dapat kerja sebagai seorang dokter umum. Bersama Dion. Entahlah, selama lima tahun bersama saat inilah aku mulai menyukainya. Aku jatuh cinta padanya baru sekarang setelah semua pengorbanan itu.
  ”Sayang, setelah menyelesaikan pendidikan Co-ass kamu. Kita harus cepat pulang ke Banjarmasin ya?” kata Mama suatu sore saat aku barusan pulang dari rumah sakit,  setelah selesai membantu dokter Ambar melakukan operasi pengangakatan rahim. Aku bingung, ada apa? Suara Mama begitu serius. Mama baru beberapa hari tiba di Solo. Bersama adik dan Ayahku mereka ingin melihatku wisuda menjadi dokter. Waktunya tinggal menghitung hari.

Dan sekarang hari itu tiba. Aku telah resmi menjadi seorang dokter umum. Gak bisa kuungkap perasaan itu. Meletup-letup di rongga kepalaku. Ingin rasanya cepat bertemu Dion dan merayakan kelulusanku, tapi Mama menyuruhku untuk cepat bergegas. Kujelaskan kalau aku ingin bertemu Dion dan memperkenalkannya pada Mama dan keluarga, tapi mendadak wajah Mama berubah menjadi keruh. Aku takut melihatnya. Aku pergi tanpa memberitahu Dion. Saat di Kalimantan adalah saat meredupnya bintang di hatiku.
≈≈≈
Hari ini hari kelulusan Zahra sebagai dokter umum. Tapi sialnya Dion tidak bisa ikut merayakannya karena tadi ada operasi mendadak dari seorang pasien rujukan yang ingin melakukan pencangkokan jantung. Syukurlah Dion tetap bisa berkonsentrasi meskipun hatinya kacau balau.
Kakak konsn aja sm oprsinya. Gk apa2 kok klo gk bisa dtng. Aku ngrti. Bsok aj ktmu di tman rmh skit sprti biasa, ok?
Dion tersenyum membaca sms Zahra, besok Dion akan melamarnya. Dirogohnya saku jas kerjanya. Sebuah kotak kecil berwarna merah hati bertaut di tangannya. Di bukanya kembali kotak cantik itu. Sebuah cincin berlian bermata biru safir menyembul dan memancarkan keindahannya. Cincin yang ia ukir dan dibuat sendiri. Cincin ini sudah terpantri di bayangan bintang hatinya sejak lima tahun yang lalu. Besok adalah hari yang dinantinya. Dion tidak peduli Zahra bukan  berasal dari kalangan keraton.
Masih teringat jelas di ingatan Dion saat dia menolak mentah-mentah perintah orang tuanya untuk menikah dengan seorang gadis jawa keturunan keraton juga. Dion ternyata sudah di jodohkan sejak kecil tapi dia dengan tegas menyatakan keinginannya untuk melamar gadis Kalimantan setelah dia lulus. Sontak membuat orangtuanya mendapat serangan jantung. Bagaimana bisa ketentuan adat ditentang. Tapi cintanya memang harus diperjuangkan. Sekarang mereka masih menuding Dion karena tidak menjalankan perintah digma agung dari keraton.
Besoknya....
Disinilah Dion sekarang, menunggu kedatangan bintang hatinya. Mereka selalu disana setiap sore seusai kerja sambil menikmati betapa sempurnanya keseimbangan alam. Tapi lima jam menunggu Zahra tidak datang juga. Kekhawatiran Dion memuncak ketika ponselnya pun tidak aktif.  
”Za, kamu kemana sih?” lirihnya sambil menggegam erat kotak cincin berlian bermata biru safir itu..
Malam semakin larut tapi tidak ada pertanda Zahra akan datang, Dion kalut dengan pikiran yang meracau. Seingatnya Zahra tidak pernah melanggar janjinya. Dia sangat kenal sifat bintang hatinya itu. Dalam kebingungan, dia teringat Rei dan mencoba menghubungi gadis yang satu partner kerja dengannya.
”Ya halo Kak...” jawab suara diseberang sana yang kedengaran ketakutan  sesaat setelah Rei menerima telepon Dion..
”Rei, kamu tahu sekarang Zahra dimana? Dia gak datang saat kami  janjian sekarang ini. Aku udah menunggunya lebih dari lima jam tapi bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi!!!” pekik Dion panik sampai mengencangkan urat nadiku.
”.......”
”Rei, kenapa diam? Kamu tahu apa yang terjadi sama dia?!”
”Mmm, gini Kak, Aku juga barusan diberitahu Zahra tadi lewat telpon, dia....”
”Iya, dia kenapa?!!”
”Zahra sekarang udah ada di Banjarmasin. Hari ini dia menikah dengan  tunangannya. Dia....”
Entah apalagi kata-kata Rei, tiba-tiba saja seperti ada yang meruntuhkan langit hatinya, mengaduk-aduk susunan teratur paraduan jiwanya, Dion tak sanggup mencerna lebih lama apa yang baru didengarnya. Bintang hati yang bersemayam selama lima tahun itu meredup dan hilang ditelan pekatnya hitam. Tubuhnya terhuyung tak berdaya. Dion pingsan.
Surakarta, 07 Mei 2010