Senin, 01 November 2010

Tersandung Cinta Tulus


Arakan cinta tak pernah sepi dari nuansa…
Mengalun merdu menyandingi fatamorgana keindahan..
Meskipun insan telah tercipta dengan asa itu…
Mencintai luar dirinya adalah cinta terendah…
ೖೖೖ
“Masih mengingatku?” tanya seorang laki-laki muda berkacamata dan berpenampilan fisik yang sangat menawan itu penuh selidik.
Aku yang baru selesai menangani pasien remaja yang mengalami fraktur, terlonjak kaget mendengarnya. Ini sudah kelima kalinya dia secara tiba-tiba muncul dihadapanku dan selalu bertanya seperti itu.
Huh!
”Aku kan sudah bilang, aku tidak kenal kamu ini siapa. Maksudku sebelumnya, ya aku sudah tahu namamu Hendra Tulus Mahardika dan kamu dokter umum disini. Tapi selain itu aku tidak kenal siapa kau!!” Bentakku kesal dan cepat berlalu dari hadapannya.
Dengan cara apa lagi aku harus mengatakan kalau aku tidak pernah mengenalnya sebelum ini. Apa aku amnesia dan lupa bahwa dia pernah ada dalam hidupku? Yang benar saja, sampai umurku dua puluh tiga ini aku tidak pernah mengalami kecelakaan dan membuat kinerja otak yang bagian frontalis ini terganggu. Aku masih menyimpan semua memori hidupku sebaik-baiknya. Orang aneh itu saja yang mengaku-ngaku sudah kenal denganku sejak lama.
Aku tahu dia sudah sangat terkenal di kalangan paramedis seantero rumah sakit tempatku bekerja ini, meskipun dia baru ditempatkan dua minggu yang lalu. Apalagi kalau bukan karena fisik dan otaknya yang melebihi rata-rata. Ditambah lagi dengan tebengan baleno biru metalik keluaran terbarunya yang ikut menyemarakan pengapnya parkiran rumah sakit. Tapi kan dia tidak semestinya mengerjaiku seperti itu hanya karena aku sangat acuh padanya. Di rumah sakit, paramedis itu tugasnya melayani pasien sebaik mungkin, bukannya sibuk hilir mudik menemani dokter sok ganteng itu.
Aku semakin mempercepat langkah saat dia masih memanggil namaku. Aku berharap semoga dia dicegat beberapa perawat muda dan tidak bisa mengejarku seperti kemarin. Bisa-bisa keluar lagi lahar panas dari tubuhku dan menghanguskan jasadnya seketika.
Brukk!!
”Aw..sakit..duh maaf ya...ini salah saya gak liat di depan. Maaf..anda tidak apa...” mulutku berhenti komat kamit minta maaf saat melihat sosok yang kutubruk barusan. Andi!
ೖೖೖ
Aku hampir saja menjadi seorang guru fisika kalau bukan karena dia. Awalnya dia yang membuat hari-hariku bersemangat. Aku yang hampir gila kuliah di fisika, bisa juga beradaptasi dengan jurusan tersebut. Dan itu karena dia, Andi, mahasiswa teladan yang mau berteman dengan gadis yang tak bisa akur dengan fisika. Aku bahkan tak menyangka bisa mendapatkan IP diatas 3,4 di jurusan yang aku sendiri bingung kenapa bisa jadi mahasiswa disitu. Dan itu karena andilnya si Andi.
Awalnya aku bisa mengatasi rasa cinta pertamaku. Tapi setelah bersahabat setahun lamanya dan selalu bersamanya, mulutku tak bisa bungkam lagi untuk menyatakan cinta pertamaku itu. Dan yang menyebalkan aku masih ingat dengan betul kata-kata bodoh yang kulontarkan saat itu.
”Aku..aku suka sama kamu, An!” kataku tiba-tiba saat kami lagi duduk berdua di bangku bundar taman kampus.
”Oh ya, aku juga suka sama kamu,” jawab Andi santai tanpa melihat ekspresi wajahku yang sudah berubah warna dari biru ke merah. Aku tak menyangka dia membalas cintaku. Tapi kemudian dia melanjutkan perkataannya, ”Kamu teman yang sangat baik, menyenangkan, sedikit heboh, jadinya aku suka menjadi temanmu..”
”Lho, jadi,,,maksudmu?”
”Iya, aku suka berteman sama kamu Ra. Memangnya ke..” Andi tidak melanjutkan kata-katanya saat dia berpaling melihatku. Dan dramatis sekali dia telah melihat ekspresi wajahku yang seperti anak kecil yang ingin meledakkan tangisnya karena ibunya tidak mau membelikan permen kesukaannya.
”Ya ampun, Ra. Jangan-jangan maksud kamu tadi adalah kamu...kamu menyukaiku?!” huh, memangnya tadi aku bilang apa. ”Maafkan aku, Ra. Tapi sayang kamu bukan tipeku. Aku sudah jatuh cinta pada seorang model yang bernama An...”
Ku potong kata-katanya dengan beranjak pergi dari hadapannya. Pengakuan yang sungguh menyakitkan. Wajahku malah tidak berwarna sama sekali menahan kesedihan yang melingkupi perasaanku. Akupun langsung berlari meninggalkan Andi yang masih komat-kamit menolak dan membanggakan gadis itu. Aku salah mengartikan sikap manis Andi selama ini padaku.
Aku bahkan merasa tidak bermuka saat bertemu dengannya saat insiden menyakitkan itu. Apalagi kami berada di satu fakultas, satu jurusan, satu kelas, satu kelompok, dan entah satu perkumpulan apalagi. Sejak kejadian yang menurutku juga memalukan itu aku tak pernah bicara satu huruf pun dengannya. Dan dia juga tidak pernah mendesakku. Hingga kami tak pernah berteman akrab seperti dulu lagi.
Memang kalau aku pikir lagi, aku tak sebanding dengannya. Andi tampan, wajahnya sangat menawan plus menggoda iman, alisnya tebal, bulu matanya lentik nan panjang, bola matanya berwarna coklat yang cerah, hidungnya bangir, dan bibirnya merah merekah-yang menandakan tidak pernah tersentuh barang beracun yang bernama rokok. Ditambah lagi otaknya yang cerdas dan harta bendanya yang menyilaukan mata. Berdiri disampingnya membuatku seperti babu yang tak terpandang, yang baru kusadari saat aku ditolaknya.
Untunglah saat akhir semester dua, mamaku menawarkan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri lagi. Mama merasa bersalah karena telah memaksaku kuliah di jurusan yang sama sekali tidak kuminati. Tanpa pikir panjang, aku pun melepaskan FKIP fisika itu dan menjadi mahasiswa kesehatan jurusan fisioterapi seperti impianku.
ೖೖೖ
”Selamat pagi Nona Ira. Gimana keadaamu pagi ini?” sapa seorang laki-laki tampan itu dengan sopan saat aku baru saja keluar dari tunggangan besiku.
“Pagi!!” sahutku sejutek mungkin. Sebenarnya aku ingin menjawab keadaanku baik-baik saja pagi ini tapi sayang orang yang menanyakannya adalah orang yang menyebalkan bagiku akhir-akhir ini. Mengapa sepagi ini aku sudah harus bertemu dengan si sengak itu!
”Tapi keadaanmu sedang tidak baik, ya?”
”Kalau kamu sudah tahu, kenapa juga nanya-nanya!” jawabku ketus dan cepat meninggalkannya.
”Maaf kalau begitu. Sepertinya kamu gak suka padaku...maaf kalau kamu terganggu dengan kehadiranku tapi benarkah kamu tidak mengingatku lagi?” tandas cowok atletis itu. Dia terus saja bicara tanpa mempedulikan orang-orang yang mulai berdatangan di parkiran rumah sakit dan aku yang mulai menjauh dari hadapannya. Sayangnya aku masih bisa mendengar apa yang dia katakankan. ”Aku ini Tulus, sahabat kecilmu!”
Sahabat kecil? Sahabat kecil dari Vietnam! Sejak kapan aku punya sahabat kecil macam dia. Dulu dia juga mengatakan seperti itu dan sempat terlintas dipikiranku kalau dia adalah Tulus yang gembrot itu.
Hmmm...memang aku punya sahabat kecil dan namanya Tulus pula. Terakhir aku bertemu dengannya saat kelulusan SMP dan perawakannya masih seperti kuda nil. Apalagi wajahnya dulu dikerumbungi jerawatan, bintik-bintik hitam, dan lemak yang bergelantungan. Tulus sahabatku juga badannya pendek dan berantakan sekali. Sampai aku sulit mengungkapkan dengan kata-kata kekucelannya. Kerjaannya cuman makan dan makan. Dari TK sampai SMP, Tulus tidak pernah berubah dan aku tahu dia sangat cinta pada segala jenis coklat melebihi apapun.
Jadi mana mungkin sahabatku Tulus berubah 180 derajat menjadi Tulus yang sekarang ini. Aku yakin sahabatku Tulus tidak akan berubah karena dia sendiri bilang bahwa sangat bahagia dengan keadaannya.
Aku kembali menghembuskan nafas saat berfikir keras seperti ini. Setelah tiba di meja kerjaku, sebuah bingkisan berwarna biru langit telah manis menunggu di sana. Aku tersenyum, bukankah sekarang tanggal 13. dan pasti itu bingkisan dari Tulus.
”Kali ini apa, ya?” gumamku sambil menerka barang yang tersembunyi dari balik kotak itu.
Sejak berpisah delapan tahun yang lalu, Tulus memang selalu hadir dengan surat dan barang-barang menggemaskan setiap bulan tanggal 13. Karena saat tanggal 13 itulah kami berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Aku sering bingung memikirkan dari mana dia tahu alamat kerjaku sekarang. Apalagi Tulus tidak pernah memberikan alamat dan nomor teleponnya sehingga aku tidak bisa membalasnya. Tapi aku sering mengabaikan pertanyaan itu dan cukup senang dengan kunjungan rutinnya ini.
Kubuka bungkusan itu dan mendapati sehelai syal lembut berwarna merah jambu. Aku menyeringit heran. Bukannya aku tidak suka dengan barang pemberiannya tapi selama ini dia selalu memberikan barang-barang berwarna biru langit. Dan ini pertama kalinya dia memberikanku barang dengan warna lain, merah jambu pula. Tapi awan keherannku menghilang saat membaca suratnya. Ternyata sahabatku sedang jatuh cinta, dan ingin menyatakan cintanya pada gadis impiannya sebentar lagi. Si gembrot itu akhirnya bisa juga suka sama seorang gadis, batinku lucu. Baiklah, akan kupakai syal ini sebagai tanda aku ikut bahagia atas cinta yang dilanda sahabatku.  
Kemudian aku beranjak dari meja kerjaku dan berjalan menuju kamar pasien. Tapi tiba-tiba dadaku terasa sesak. Aku teringat kalau hari ini adalah jadwal aku melakukan terapi pada Andin, tunangan Andi. Saat mengetahui dia kecelakaan, ada sebagian kisi hatiku yang bahagia. Kaki sebelah kirinya patah dan tentu saja dia tidak bisa melenggak-lenggok di atas catwalk seperti yang dibanggakan Andi!
Bukannya aku tidak bisa bertindak profesional tapi aku tidak bisa menutupi rasa cemburuku. Meskipun rasa cintaku pada Andi sudah lama terkikis tapi tetap saja gejolak perasaan aneh itu tak mau pergi dari hatiku. Gadis itu beruntung mendapatkan Andi. Belum hilang rasa mangkelku, Tulus sudah menjajarkan langkahnya di sampingku. Aku sendiri bingung, kenapa dia suka sekali hadir di sekitarku tanpa aku bisa mendeteksi kehadirannya!
”Jangan manyun gitu dong, ntar pasienmu takut lagi lihat terapisnya bertampang sangar gitu,”
”Biarin, emang apa pedulimu? Lagian kan kalau bukan karena dia adalah...” suraku tercekat menahan emosi untuk melanjutkan perkataanku.
”Itukan masa lalu. Lagian dia juga pasienku jadi aku juga harus bertanggung-jawab kalau dia kenapa-kenapa,”
”Tunggu dulu, kamu bilang apa tadi? Masa lalu? Tahu apa kamu tentang masa laluku?” cercahku sambil menghentikan langkahnya. Apa dia tahu tentang masa laluku?
”Hmmm, syal yang kamu pakai bagus. Pasti kamu orang yang spesial bagi orang itu sampai dikasih syal secantik ini...”
”Jangan mengalihkan pembicaraan, aku ingin kamu menjawab pertanyaanku!”
”.....”
”Dan...dan darimana kamu tahu kalau syal ini hadiah dari seseorang?” aku benar-benar bingung dengan orang satu ini. Mengapa sepertinya dia tahu segalanya tentangku.
”Ayolah Bi, aku kan sudah bilang kalau aku ini Tulus sahabatmu. Masa’ kamu sudah melupakanku?” akunya yang membuatku dihinggapi perasaan heran.
”Sebentar, kamu panggil aku apa tadi?”
”Bi, Biru. Kamu sendiri tahu kan kalau hanya aku yang memanggil kamu dengan warna kesukaanmu itu? Dan sekarang kamu masih tidak percaya kalau aku ini adalah Tulusmu?”
Aku hampir saja limbung kalau tidak cepat duduk di kursi sampingku. Biru, ya memang hanya Tulus sahabatku yang memanggilku seperti itu. Jadi benar dia adalah Tulus.
”Ta...tapi, Tulus yang aku kenal tidak seperti kamu...” mataku nanar menatap tampang gagah di hadapanku.
”Memanngnya kamu pikir aku tidak bisa berubah, ya? Lagian setiap kali aku ingin menjelaskan, kamu seperti alergi melihatku,”
”Huh, habisnya kamu seperti Andi...”
”Seperti Andi? Aku ini kan dokter bukan dosen, kok kamu bilang seperti dia?” protesnya bingung. Entah sejak kapan dia jadi lemot seperti ini.
”Bukaaan, bukan yang itu. Kamu sekarang sangat tampan, tinggi, atletis, putih bersih, cerdas, dan sangat tajir. Melihatmu, mengingatkanku pada Andi itu. Kalian persis sama...” terangku sambil mencoba menstabilkan emosi yang mulai mengaduk-ngaduk hatiku. ”Dan...dan aku pernah dikecewakan olehnya... dia tidak pernah mencintai gadis biasa sepertiku. Dan aku yakin semua cowok seperti dia pasti hanya menyukai gadis yang sebanding dengan mereka, setipe fisik dengannya..” kataku dengan sekuat tenaga menahan air mata yang ingin menari-nari di kelopak mataku. Mengingat apa yang pernah dikatakan Andi dulu.
”Biru..kenapa kamu sampai punya pikiran seperti itu? Aku pikir kamu gadis yang realistis,Bi. Yang kutahu dulu kamu tidak pernah menyamakan semua orang dengan sosok yang pernah mengecewakanmu...”
”Sok tahu!! Darimana kamu tahu tentangku setelah lama tidak bertemu?”
”Kamu pikir aku tidak bisa menyewa intel untuk mengawasimu setiap saat, ya? Bahkan aku juga tahu kamu pernah minggat dari FKIP terus akhirnya kuliah dan bekerja sebagai fisioterapis di rumah sakit ini. Dan gimana susahnya aku menolak beasiswa universitas supaya bisa bekerja di sini untuk bertemu denganmu lagi....”
”....”
”Dan tentang Andi..aku tahu kamu pernah merasa dikecewakan olehnya tapi aku gak tahu kalo kamu menyamakan semua perasaan laki-laki lain yang kamu lihat sama seperti dia..”
”Humph...ya kamu itu sama saja. Memang aku gak lihat kamu yang tuap hari dikerumunin perawaperawat yang cantik itu, hah?”
”Aku tidak pernah ingin diperlakukan seperti itu, Bi. Memangnya kamu gak lihat tampang meranaku saat kondisi kaya gitu? Tujuanku disini selain mengabdikan diri pada masyarakat juga karena aku ingin bersamamu lagi. Tahu gak, sejak kamu bilang kamu ingin melihatku menjadi cowok yang menawan aku mati-matian merubah total penampilanku seperti sekarang ini. untung aja aku gak tergoda untuk menjalankan operasi plastik segala!! Tapi anehnya, saat aku udah seperti yang kamu inginkan, kamu malah melihatku seperti anjing yang kudisan. Memangnya kamu pikir aku gak tersiksa diperlakukan kayak gitu...”
”Maaf...maaf sebelumnya....tapi untuk apa kamu melakukan semua itu? Aku ini bukan gadis cantik seperti Andin...” ringisku mengingat Andi yang lebih memilih model itu ketimbang aku.
”Kamu itu....kamu....kamu cinta pertamaku, Bi. Aku tidak pernah silau melihat fisik seseorang sebagai salah satu alasanku menciintaimu. Aku mencintaimu karena hati dan sikapmu yang sesuai dengan keyakinanku. Bukankah fisik itu adalah sesuatu yang fana, Bi? Jadi buat apa aku mencintaimu atas dasar itu!! Aku bahkan sudah menyukaimu sejak kita SMP. Aku sadar kamu berbeda dengan gadis sebayamu yang sudah kecentilan saat itu..”
Aku hanya menghela nafas panjang mendengar penuturannya yang seperti menghinaku. Tulus benar. Kenapa dulu aku harus mencintai seseorang karena fisiknya? Sejak kapan hatiku buta dan menganggap fisik adalah syarat mutlak dasar untuk mencintai seseorang? Dan kenapa aku tidak adil dengan menganggap Tulus seperti Andi...
”Kalau gitu, kamu kembali menjadi Tulus yang gembrot aja. Aku kan gak mau mencintai seseorang dari fisiknya lagi...” kataku sambil memperbaiki espersi wajahku yang berantakan.
”Biruuu..kamu jahat banget sih....kan gak mesti aku harus kembali ke wujud semula supaya kamu mau menerima cintaku. Bukankah lebih menyenangkan kalau hati dan fisikku sama-sama menawan? Jadi kamu dapat bonus,he..” canda Tulus yang berhasil membuat kinerja otot zigomatikus minorku berfungsi lagi. Aku hanya menggelengkan kepala menyikapi sifat narsis Tulus ini. tapi yang lebih penting ruang hatiku sudah mengembang lagi. Seribu bunga mawar sudah berhamburan di dalamnya.
Aku berdiri dan Tulus mengajakku melanjutkan pekerjaan kami yang sempat tertunda. Hingga diambang pintu kamar pasien, wajahku masih merona merah menanggapi respun hatiku tentang tawaran cinta Tulus.
”Jangan senyum-senyum sendiri. Ntar pasien ngeri lagi lihat mukamu itu!” canda Tulus lagi sambil menggerakkan engsel pintu di depannya. Tak elak hampir kulayangkan tinjuku ke lengannya seandainya aku tudak melihat Andi dan Andin yang melonggo melihat kedatangan kami.
”Oh...eh maaf membuat kalian lama menunggu,” kataku sambil menyembunyikan tangan kananku yang telah menyentuh jas putih Tulus.
 ”Iya, kami minta maaf. Tadi kami ada sedikit urusan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi,”
”Tidak....tidak apa kok Dokter. Saya juga barusan selesai sarapan kok....” jawab Andin bersikap manis yang dibuat-buat yang membuat perutku mulas. Selain kakinya, sepertinya mukanya juga harus kuterapi sekalian biar berfungsi wajar!!
”Iya kok Dok. Mmm, jadi yang akan menerapi Andin...”
”Oh ya  maaf. Saya lupa bilang kemarin. Ini Ayra Swelya, dia yang menjadi fsioterapis saudari Andin,”
”Ya, saya sudah mengenal Ayra sebelumnya tapi saya tidak menyangka kalau dia yang akan menjadi terapisnya Andin. Dan maaf, sepertinya kalian sangat akrab, ya?” cercah Andi yang membuatku jengkel. Lagian aku tidak pernah meminta Andin yang menjadi pasienku dan sekarang dia malah berkomentar tentang keakrabanku dengan dokter muda disampingku. Aku sudah hendak memuntahkan argumenku saat Tulus tiba-tiba sudah berkoar dengan bangganya..
”Tentu saja kami sangat akrab dan kompak. Duel antara dokter dan fisioterapis yang sangat serasi bukan! Dan saya juga ingin menyampaikan kalau fisioterapis Ayra ini adalah calon istri saya..” sesaat kemudian semua langsung hening dan sedetik kemudian setelah aku bisa mencerna maksudnya aku merasakan ada kupu-kupu yang menari salsa di perutku. Dan suasana ruangan putih itu telah bercampur sejuta rasa.
Surakarta, 01 November 2010

Lingkaran Taman Hati JeLo

Ya Allah, jika aku jatuh cinta.....                   
Cintakan aku pada seseorang.....
Yang melabuhkan cintanya pada-Mu.....
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.....
ೖೖೖ
Di SMA Nusa Bangsa, siapa yang tidak kenal pasangan ini. Mereka terkenal layaknya Jack dan Rose, Romeo dan Juliet, Marc Antony dan Celeopatra, atau pastinya Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Bukan karena pengorbanan cintanya juga sih tapi karena kemesraan mereka, waduh! Tapi begitulah. Hampir semua orang yang melihat pada iri dengan kemesraan mereka. Entah di kelas, di perpustakaan, di lapangan basket, di laboratorium, bahkan di ruang guru, mereka selalu bersama-sama.
Ajelia Pirakha dan Relon Zevlon itulah nama pasangan yang lagi kejangkitan VMJ. Atau biasa di sapa  JeLo, bukan singkatan Jeniffer Lopez tuh, tapi dari Jela dan  Elon . Mereka adalah siswa kelas XII IPA 1 yang terkenal layaknya artis ibukota. Yang membuat mereka tambah istimewa adalah prestasi mereka di bidang akademis dan olahraga. Hampir semua piala dan tropi menjadi milik mereka. Langganan setiap ada event-event seperti olimpiade sains, debat nasional, karya ilmiah. Pacaran sih pacaran tadi kalau di dalam kelas jadi rival be number one!!
“Je sweety, hari ini pulang bareng kan?” kata Elon setelah mereka selesai memimpin rapat OSIS.
”Iya dong Lon, tapi ke toko buku dulu ya? Aku pengen beli buku terbarunya Andrea Hirata nih,” kata Jel yang begitu menyukai buku-buku penulis Indonesia yang berbakat itu.
”Assalamu’alaikum JeLo,” kata seseorang cewek berkerudung yang tiba-tiba memasuki ruangan OSIS.
Reni, bendahara I OSIS di SMA Nusa Bangsa. Dia cewek yang sangat anggun, supel, berwibawa, dan baik hati tentunya dengan balutan kerudung yang lebar. Begitu penilaian Jela terhadap cewek yang satu kelas dengannya itu. Meskipun sering banget mendakwahi JeLo, tapi pasangan itu tidak pernah canggung saat berduaan seperti sekarang.
”Wa’alaikumssalam”
”Je, besok hari minggu ada acara gak?” kata Reni yang segera menghampiri Jela ketika merapikan alat tulisnya yang masih berserakan.
”Mmm, kayaknya gak ada tuh Ren. Ada apa ya?”
”Kamu mau gak ikut pengajian? Ceramahnya bagus banget lho, buat anak muda kayak kita gini...”
Sedetik kemudian dia langsung mengerling Elon. Minta persetujuan mungkin. Ikut pengajian? Ceramah? Heh. Yang bener aja. Mereka... emang muslim sih tapi cukup tahu melaksanakan sholat dan ibadah wajibnya seperti puasa Ramadhan. Itu pun diberitahukan saat ngaji di TPA waktu kecil.
Maklum lah orang tua mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing. Urusan anak diserahkan sepenuhnya dengan pembokat yang udah lama mengabdi pada mereka. Syukur-syukur pembantunya alim dan bisa mengarahkan anak tuannya ke jalan yang benar.
Mereka senyum-senyum sendiri karena selama ini gak sekali pun mengikuti acara siraman rohani seperti ajakan Reni tersebut. Mungkin karena itu jua lah Reni giat sekali ingin mengajak pasangan serasi ini. Tapi demi dakwah, Reni tidak pernah bosan mengajak mereka sekedar mendengar ceramah ustad sekali seminggu itu.
”Gimana? Kalau kamu ada kesibukan gak apa-apa kok. Aku cuman nawarin aja...” meskipun dalam hati Reni sangat berharap pasangan ini mau insaf.
”Mmmm. Boleh juga tu Ren,” kata Je tiba-tiba sebelum Reni melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Akhirnya!!!
”Tapi Elon boleh ikut gak?”
÷÷÷
Dan jadilah sekarang Jela dan Reni mendengarkan ceramah di pagi Minggu yang cerah. Di sebuah gedung pengajian yang besar. Memiliki empat lantai yang begitu konsentris dan terstruktur apik. Dengan dekorasi timur tengah yang begitu kental di dalamnya. Melihat pemandangan ruangan di dalamnya saja mampu membuat hati Jela tenang. Jauh ketika dia berada di rumah. Meskipun rumahnya jauh lebih megah di bandingkan tempat yang kini dia berada.
Rasa rindu yang selama ini membuncah di kalbunya saat duduk bersama muslimah-muslimah yang lain. Begitu tenang bergumul dengan saudara seiman. Dan itu semakin terobati ketika dia mendengarkan sang ustadz menerangkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu yang dia miliki. Begitu tentram perasaan Jela saat itu. Melebihi saat dia berhasil menjadi pemenang olimpiade Matematika tingkat internasional bersama Elon beberapa waktu yang lalu di Yunani. Saat itu mereka berdua mewakili Indonesia untuk bertanding dengan para pelajar di belahan bumi lain. Perasaan bangga sebagai pelajar. Tapi perasaan ini melebihi dari itu. Entah apa.
Dan saat ustadz menjelaskan sebuah ayat tentang hubungan perempuan dan laki-laki. Tiba-tiba dada Jela tercegat mendengarnya. Ayat tersebut menjelaskan agar perempuan dan laki-laki muslim selalu menjaga pandangannya. Menahan dan menghilangkan perasaan suka yang mereka alami, apabila tak sanggup mengelolanya. Di dalam Islam tidak ada istilah pacaran sebelum adanya pernikahan!!! Karena perbuatan tersebut sudah memasuki zona zina...
Kembang kempis dada Jela mendengarnya. Sesuatu yang tidak pernah didengarnya. Kalau pun pernah di dengarnya saat pelajaran agama, sudah langsung minggat tanpa mampir dulu ke otaknya. Lagian bagaimana mau tahu, kalau kegiatan rohis di sekolah saja dia malas mengikuti. Tapi, salahkah apa yang pernah dilakukannya dengan Elon sejak lima tahun lalu? Mereka sudah lama berpacaran. Banyak hal-hal yang mereka lakukan bersama. Mereka tidak pernah menjaga pandangan. Berpegangan tangan sudah menjadi hal yang lumrah yang mereka lakukan. Cipika-cipiki apalagi. Meskipun belum dalam taraf yang semakin berani tapi....
Mungkin hidayah itu telah dihadirkan Allah ke hatinya. Jela langsung menunduk. Dia menangis. Reni membiarkan saja Jela yang mulai mengeluarkan airmata.
Syukurlah kalau dia sadar.
Memang itu tujuannya membawa Jela ke sini. Dulu sudah sering dia mencoba menasehati tentang perilaku mereka yang kelewat mesra. Tapi tak pernah digubris sedikitpun. Berbagai cara sudah dilakukan Reni tapi hasilnya selalu nihil. Makanya dia bersyukur sekali saat Jela bersedia menerima tawarannya ini. Paling tidak mereka tahu bahwa yang selama ini mereka lakukan gak bener!!
Perlahan di usapnya kepala Jela yang berbalut selendang itu. Mencoba menyakinkan bahwa semua ini belum terlambat. Masih ada hari esok untuknya buat memperbaiki diri. Memohon ampun atas segala kekhilafan yang pernah dilakukannya-yang mungkin itu semua hanya karena ketidaktahuannya. Setelah selesai, Elon memberitahu Jela bahwa dia tidak bisa bertemu Elon. Dia ingin cepat pulang. Begitu pula Jela. Mungkin mereka ingin mengintropeksi diri masing-masing. Syukurlah kalo akhirnya mereka sadar, batin Reni.
÷÷÷
SMA Nusa Bangsa gempar. Hampir semua siswa membicarakannya. Entah di ruangan kelas, di kantin, di lapangan basket, di toliet, bahkan di ruangan guru. Bahkan diumumkan lewat mading sekolah dengan huruf cetak yang besar dan tebal. What happen sih? Sebenarnya beritanya gak terlalu bermutu sih, tapi begitu penting bagi warga SMA ini-katanya.
JeLo PUTUS!!!
Wow, ternyata itu? Emang heboh, apalagi bagi mereka yang sangat mengidolakan pasangan yang sangat serasi luar dalam ini. Bagaimana bisa ikatan cinta di antara mereka bisa patah tanpa sebelumnya sempat bermasalah. Baru kemarin bergelayutan mesra di kantin Mpok Tira kok besoknya putus? Well, ada yang mencoba mewawancara dan jawaban mereka kompak pula. Ingin menjauhi ZINA!!!?
Ada yang mengerti?
Di sudut taman sekolah tersungging senyum syukur seorang gadis berkerudung. Akhirnya perjuangannya selama hampit tiga tahun ini tidak sia-sia. Meski banyak tudingan miring yang diarahkan padanya ihwal putusnya pasangan JeLo pasti ada andilnya juga. Toh, ini untuk kebaikan kok.
Rutinitas pun dilakukan semua siswa seperti biasanya. Di tambah begitu mencekam karena menunggu detik-detik Ujian Nasional. Pada banyak yang alim deh pegang buku semua. Di simpan dalam peti dulu barang kesayangan kayak Hp, PS, i-Pod, bahkan dompet. Tapi tidak begitu dengan JeLo. Mereka adem ayem saja. Tidak lama setelah putus sama Elon, sekarang Jela sudah pake kerudung. Dia mulai mengerti untuk menutup auratnya sebagai seorang cewek Islam.
Saat ini Jela lagi di perpustakaan membaca ulang pelajaran Biologi kelas X. Terbesit sesuatu. Masih segar di ingatannya terakhir kali dia bicara berdua dengan Elon, sebelum mereka menghadapi Ujian Nasional dan akhirnya tak pernah bertemu lagi selepas SMA...
”Lon, aku pengen putus. Aku sadar selama ini yang kita lakukan salah. Tidak ada manfaatnya selain dosa. Kamu dengar sendiri kan kata ustadz itu kalo di dalam Islam tidak ada istilahnya pacaran sebelum nikah? Itu udah jelas tertulis di dalam kitab suci kita Lon.... Aku takut sama Allah. Lebih baik kita berpisah saja daripada melakukan hubungan yang gak ada dalam syariat agama....” ujar Jela panjang lebar. Mereka sama-sama menunduk. Udah gak berani berpandangan.
”Iya, kamu benar Je. Udah tidak seharusnya seperti ini. Aku emang masih sayang banget sama kamu tapi aku gak mungkin bisa nikah sama kamu sekang ini. Dan pacaran bukan jalan yang murni untuk mengukuhkan cinta kita. Aku rela berpisah denganmu demi agamaku. Demi Allah...” kata Elon mantap. Meskipun semalaman dia harus tumpah airmata saat memutuskan semua ini.
”Sama Lon, aku juga ikhlas harus berpisah sama kamu demi Allah. Semoga ini menjadi yang terbaik untuk kita...” kata Jela sambil melangkah pergi meninggalkan Elon. Melepasnya dengan ikhlas. Perpisahan cinta dua anak manusia yang begitu saling mencintai. Berpisah karena mereka akhirnya lebih takut pada Tuhannya ketimbang takut kehilangan orang yang dicintainya....
÷÷÷
Musim kemarau telah berlalu, silih berganti dengan pasangannya yang sejati di daerah tropis. Musim hujan. Siap mengisi kekeringan tanah tempat para insan berpijak. Seperti musim hujan yang keberadaannya menyejukkan petani, begitu pula lah Al-Qur’an yang menyejukkan mata hati Jela....
Hari ini dia sangat bahagia, beberapa detik lagi dia akan wisuda. Ya, dia telah menamatkan pendidikan strata satunya di fakultas kedokteran ini. Di sebuah universitas terkemuka di Indonesia. Cita-citanya menjadi seorang dokter telah menjadi kenyataan. Dia berjanji menolong masyarakat miskin yang tak mampu berobat, menolong sesama yang membutuhkan tanpa pamrih, seperti sumpah dokter yang sebentar lagi akan diikrarkannya. Begitu banyak mereka diluar sana yang menanti uluran tangannya.
Setelah acara wisuda, Jela sekeluarga berkumpul di rumah untuk merayakan kelulusannya. Semua orang bangga padanya. Terutama orangtuanya yang selama ini sangat mengharapkan keberhasilan anak semata wayang mereka. Saat itu pulalah datang ustadzah yang selama ini menjadi guru ngajinya.
”Selamat ya Sayang, akhirnya jadi Dokter!!!” katanya lembut begitu Jela memeluknya.
”Terima kasih Mbak, ini juga support dari Mbak supaya aku jangan pantang menyerah menjalani kuliah yang berat ini....”
”Ah, kamu ini. Oh ya, ada yang ingin Mbak bicarain nih. Hanya berdua.”
”Begini Je, kamu kan sudah lulus kuliah. Jadi sudah saatnya kamu mulai memikirkan tentang seseorang untuk menjadi pendamping hidupmu kelak...” kata Mbak Zahra bijak yang sontak membuat Jela tertegun. Selama ini dia tak pernah memikirkan masalah itu.
”Tapi Mbak, aku belum punya calon...!”
”Mbak tahu, makanya Mbak bilang ini. Ada seorang pengacara muda yang minta dicarikan istri kepada suami Mbak. Laki-laki itu juga berguru pada suami Mbak. Meskipun dia kuliah di luar negeri tapi komunikasinya selalu jalan dengan kami selepas dia SMA. Dia sangat percaya suami Mbak akan mencarikan pasangan yang tepat untuknya. Mbak jadi kepikiran sama kamu. Agamanya bagus, itu yang terpenting dari cowok ini Je. Mbak yakin dia akan menuntut kamu ke jalan yang lurus. Masalah yang lain kamu jangan khawatir. Tampang dan pekerjaan tidak perlu diragukan lagi dari laki-laki itu. Tapi semuanya memang tergantung sama kamu juga...” kata Mbak Zahra yang begitu yakin dengan pilihannya untuk Jela.
Lama Jela terdiam. Sebenarnya dia belum ingin memikirkan tentang masalah pernikahan, apalagi dia barusan lulus kuliah. Dia masih ingin mengejar karir dengan pekerjaan idamannya ini. Dia ingin menjadi dokter yang handal dan membantu masyarakat lemah yang banyak sakit tapi minim biaya seperti yang banyak terjadi  sekarang. Tapi berat baginya menolak tawaran Mbak Zahra. Mbak Zahra juga pernah berpesan kalau menikah di waktu muda sangat dianjurkan Rasulullah. Menghindarkan dari fitnah. Mungkin karena itu Mbak Zahra tidak ingin membiarkannya lama-lama sendiri.
”Mmmm, baiklah Mbak.... aku niatkan pernikahan itu untuk beribadah kepada Allah ta’alla. Mungkin jodohku sudah sampai...” kata Jela ikhlas.
”Syukurlah kalo begitu. Mbak tahu kamu pasti akan memutuskannya dengan bijak. Sebenarnya orangtua kamu sudah Mbak bicarakan tentang ini dan mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan ke kamu. Kalo sudah begini, tinggal kita atur jadwalnya. Oh ya, apa kamu mau diperkenalkan dulu dengan calon suami kamu? Kita ta’aruf dulu. Gimana?”
”Gak usah aja Mbak. Aku yakin kok pada keputusan Mbak dan suami. Yang terpenting agamanya bagus. Itu udah cukup bagiku...”
Dan... sebulan setelah itu, akad pernikahan Jela dan calon suaminya pun di laksanakan. Bahkan Jela tidak tahu nama laki-laki yang akan membangun mahligai suci rumah tangga dengannya. Baginya siapapun laki-laki itu tidak terlalu penting. Dia yakin Allah pasti memberikan yang terbaik untuknya. Dia percaya firman dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa perempuan baik pasti akan diberikan pada laki-laki yang baik pula. Tak ada keraguan baginya terhadap kalimat tersebut.
Dan disini lah dia sekarang, berjalan menuju penghulu dan laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak. Setelah duduk dengan rapi penghulu pun mulai memegang janji  akad nikah yang akan diucapkan oleh sang mempelai laki-laki...
”Saya terima nikah dan kawinnya Ajelia Pirakha binti Akhmad Syam dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!!” kata mempelai laki-laki ini mantap.
”Sah para hadirin?”
”SAH!!!” jawab mereka serentak.
”Akhirnya aku sah menjadi seorang istri sekarang,” syukur Jela dalam hatinya. Setelah berdoa, sekarang giliran Jela untuk mencium tangan laki-laki yang telah sah menjadi suaminya. Ada kelembutan dan kehangatan yang langsung merasuk ke jiwa Jela ketika mencium tangan kokoh itu. Perasaan hangat yang dulu selalu menemani langkahnya, sebelum mendapatkan rengkuhan kasih sayang Allah. Tangan yang dulu mampu menegarkan hari-harinya untuk bersemangat mengarungi kehidupannya yang indah, sebelum tebaran cinta Allah melingkupi hatinya.
”Astagfirullah!! Kenapa aku malah kepikiran orang lain saat aku beberapa detik lalu telah mempunyai suami?!!” hardik Jela pada dirinya sendiri karena membiarkan mengingat kembali masa lalu yang sudah disimpan rapat di peti emas hatinya.
Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat suaminya!!! Dia pun tidak sanggup menahan kegembiraan yang meletup-letup memenuhi batok kepalanya. Bukan dosa ketika beberapa saat yang lalu dia membayangkan sosok itu. Jela pingsan saat mengetahui bahwa suaminya adalah.......Elon!!!
Cinta yang berakhir indah dari sepasang keturunan Adam. Cinta yang harus berpisah karena Allah, kini bersatu karena Allah jua lah yang menyatukannya. Mereka bersatu karena iman yang melingkupi hati dan sanubari mereka. Bahkan sebelum akad nikah berlangsung Elon juga terkejut setengah mati saat tahu kalo perempuan yang akan menjadi istrinya adalah....Jela. Cinta pertamanya dulu...
Surakarta, 06 Mei 2010