Ya Allah, jika aku jatuh cinta.....
Cintakan aku pada seseorang.....
Yang melabuhkan cintanya pada-Mu.....
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.....
ೖೖೖ
Di SMA Nusa Bangsa, siapa yang tidak kenal pasangan ini. Mereka terkenal layaknya Jack dan Rose, Romeo dan Juliet, Marc Antony dan Celeopatra, atau pastinya Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Bukan karena pengorbanan cintanya juga sih tapi karena kemesraan mereka, waduh! Tapi begitulah. Hampir semua orang yang melihat pada iri dengan kemesraan mereka. Entah di kelas, di perpustakaan, di lapangan basket, di laboratorium, bahkan di ruang guru, mereka selalu bersama-sama.
Ajelia Pirakha dan Relon Zevlon itulah nama pasangan yang lagi kejangkitan VMJ. Atau biasa di sapa JeLo, bukan singkatan Jeniffer Lopez tuh, tapi dari Jela dan Elon . Mereka adalah siswa kelas XII IPA 1 yang terkenal layaknya artis ibukota. Yang membuat mereka tambah istimewa adalah prestasi mereka di bidang akademis dan olahraga. Hampir semua piala dan tropi menjadi milik mereka. Langganan setiap ada event-event seperti olimpiade sains, debat nasional, karya ilmiah. Pacaran sih pacaran tadi kalau di dalam kelas jadi rival be number one!!
“Je sweety, hari ini pulang bareng kan?” kata Elon setelah mereka selesai memimpin rapat OSIS.
”Iya dong Lon, tapi ke toko buku dulu ya? Aku pengen beli buku terbarunya Andrea Hirata nih,” kata Jel yang begitu menyukai buku-buku penulis Indonesia yang berbakat itu.
”Assalamu’alaikum JeLo,” kata seseorang cewek berkerudung yang tiba-tiba memasuki ruangan OSIS.
Reni, bendahara I OSIS di SMA Nusa Bangsa. Dia cewek yang sangat anggun, supel, berwibawa, dan baik hati tentunya dengan balutan kerudung yang lebar. Begitu penilaian Jela terhadap cewek yang satu kelas dengannya itu. Meskipun sering banget mendakwahi JeLo, tapi pasangan itu tidak pernah canggung saat berduaan seperti sekarang.
”Wa’alaikumssalam”
”Je, besok hari minggu ada acara gak?” kata Reni yang segera menghampiri Jela ketika merapikan alat tulisnya yang masih berserakan.
”Mmm, kayaknya gak ada tuh Ren. Ada apa ya?”
”Kamu mau gak ikut pengajian? Ceramahnya bagus banget lho, buat anak muda kayak kita gini...”
Sedetik kemudian dia langsung mengerling Elon. Minta persetujuan mungkin. Ikut pengajian? Ceramah? Heh. Yang bener aja. Mereka... emang muslim sih tapi cukup tahu melaksanakan sholat dan ibadah wajibnya seperti puasa Ramadhan. Itu pun diberitahukan saat ngaji di TPA waktu kecil.
Maklum lah orang tua mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing. Urusan anak diserahkan sepenuhnya dengan pembokat yang udah lama mengabdi pada mereka. Syukur-syukur pembantunya alim dan bisa mengarahkan anak tuannya ke jalan yang benar.
Mereka senyum-senyum sendiri karena selama ini gak sekali pun mengikuti acara siraman rohani seperti ajakan Reni tersebut. Mungkin karena itu jua lah Reni giat sekali ingin mengajak pasangan serasi ini. Tapi demi dakwah, Reni tidak pernah bosan mengajak mereka sekedar mendengar ceramah ustad sekali seminggu itu.
”Gimana? Kalau kamu ada kesibukan gak apa-apa kok. Aku cuman nawarin aja...” meskipun dalam hati Reni sangat berharap pasangan ini mau insaf.
”Mmmm. Boleh juga tu Ren,” kata Je tiba-tiba sebelum Reni melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Akhirnya!!!
”Tapi Elon boleh ikut gak?”
÷÷÷
Dan jadilah sekarang Jela dan Reni mendengarkan ceramah di pagi Minggu yang cerah. Di sebuah gedung pengajian yang besar. Memiliki empat lantai yang begitu konsentris dan terstruktur apik. Dengan dekorasi timur tengah yang begitu kental di dalamnya. Melihat pemandangan ruangan di dalamnya saja mampu membuat hati Jela tenang. Jauh ketika dia berada di rumah. Meskipun rumahnya jauh lebih megah di bandingkan tempat yang kini dia berada.
Rasa rindu yang selama ini membuncah di kalbunya saat duduk bersama muslimah-muslimah yang lain. Begitu tenang bergumul dengan saudara seiman. Dan itu semakin terobati ketika dia mendengarkan sang ustadz menerangkan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu yang dia miliki. Begitu tentram perasaan Jela saat itu. Melebihi saat dia berhasil menjadi pemenang olimpiade Matematika tingkat internasional bersama Elon beberapa waktu yang lalu di Yunani. Saat itu mereka berdua mewakili Indonesia untuk bertanding dengan para pelajar di belahan bumi lain. Perasaan bangga sebagai pelajar. Tapi perasaan ini melebihi dari itu. Entah apa.
Dan saat ustadz menjelaskan sebuah ayat tentang hubungan perempuan dan laki-laki. Tiba-tiba dada Jela tercegat mendengarnya. Ayat tersebut menjelaskan agar perempuan dan laki-laki muslim selalu menjaga pandangannya. Menahan dan menghilangkan perasaan suka yang mereka alami, apabila tak sanggup mengelolanya. Di dalam Islam tidak ada istilah pacaran sebelum adanya pernikahan!!! Karena perbuatan tersebut sudah memasuki zona zina...
Kembang kempis dada Jela mendengarnya. Sesuatu yang tidak pernah didengarnya. Kalau pun pernah di dengarnya saat pelajaran agama, sudah langsung minggat tanpa mampir dulu ke otaknya. Lagian bagaimana mau tahu, kalau kegiatan rohis di sekolah saja dia malas mengikuti. Tapi, salahkah apa yang pernah dilakukannya dengan Elon sejak lima tahun lalu? Mereka sudah lama berpacaran. Banyak hal-hal yang mereka lakukan bersama. Mereka tidak pernah menjaga pandangan. Berpegangan tangan sudah menjadi hal yang lumrah yang mereka lakukan. Cipika-cipiki apalagi. Meskipun belum dalam taraf yang semakin berani tapi....
Mungkin hidayah itu telah dihadirkan Allah ke hatinya. Jela langsung menunduk. Dia menangis. Reni membiarkan saja Jela yang mulai mengeluarkan airmata.
Syukurlah kalau dia sadar.
Memang itu tujuannya membawa Jela ke sini. Dulu sudah sering dia mencoba menasehati tentang perilaku mereka yang kelewat mesra. Tapi tak pernah digubris sedikitpun. Berbagai cara sudah dilakukan Reni tapi hasilnya selalu nihil. Makanya dia bersyukur sekali saat Jela bersedia menerima tawarannya ini. Paling tidak mereka tahu bahwa yang selama ini mereka lakukan gak bener!!
Perlahan di usapnya kepala Jela yang berbalut selendang itu. Mencoba menyakinkan bahwa semua ini belum terlambat. Masih ada hari esok untuknya buat memperbaiki diri. Memohon ampun atas segala kekhilafan yang pernah dilakukannya-yang mungkin itu semua hanya karena ketidaktahuannya. Setelah selesai, Elon memberitahu Jela bahwa dia tidak bisa bertemu Elon. Dia ingin cepat pulang. Begitu pula Jela. Mungkin mereka ingin mengintropeksi diri masing-masing. Syukurlah kalo akhirnya mereka sadar, batin Reni.
÷÷÷
SMA Nusa Bangsa gempar. Hampir semua siswa membicarakannya. Entah di ruangan kelas, di kantin, di lapangan basket, di toliet, bahkan di ruangan guru. Bahkan diumumkan lewat mading sekolah dengan huruf cetak yang besar dan tebal. What happen sih? Sebenarnya beritanya gak terlalu bermutu sih, tapi begitu penting bagi warga SMA ini-katanya.
JeLo PUTUS!!!
Wow, ternyata itu? Emang heboh, apalagi bagi mereka yang sangat mengidolakan pasangan yang sangat serasi luar dalam ini. Bagaimana bisa ikatan cinta di antara mereka bisa patah tanpa sebelumnya sempat bermasalah. Baru kemarin bergelayutan mesra di kantin Mpok Tira kok besoknya putus? Well, ada yang mencoba mewawancara dan jawaban mereka kompak pula. Ingin menjauhi ZINA!!!?
Ada yang mengerti?
Di sudut taman sekolah tersungging senyum syukur seorang gadis berkerudung. Akhirnya perjuangannya selama hampit tiga tahun ini tidak sia-sia. Meski banyak tudingan miring yang diarahkan padanya ihwal putusnya pasangan JeLo pasti ada andilnya juga. Toh, ini untuk kebaikan kok.
Rutinitas pun dilakukan semua siswa seperti biasanya. Di tambah begitu mencekam karena menunggu detik-detik Ujian Nasional. Pada banyak yang alim deh pegang buku semua. Di simpan dalam peti dulu barang kesayangan kayak Hp, PS, i-Pod, bahkan dompet. Tapi tidak begitu dengan JeLo. Mereka adem ayem saja. Tidak lama setelah putus sama Elon, sekarang Jela sudah pake kerudung. Dia mulai mengerti untuk menutup auratnya sebagai seorang cewek Islam.
Saat ini Jela lagi di perpustakaan membaca ulang pelajaran Biologi kelas X. Terbesit sesuatu. Masih segar di ingatannya terakhir kali dia bicara berdua dengan Elon, sebelum mereka menghadapi Ujian Nasional dan akhirnya tak pernah bertemu lagi selepas SMA...
”Lon, aku pengen putus. Aku sadar selama ini yang kita lakukan salah. Tidak ada manfaatnya selain dosa. Kamu dengar sendiri kan kata ustadz itu kalo di dalam Islam tidak ada istilahnya pacaran sebelum nikah? Itu udah jelas tertulis di dalam kitab suci kita Lon.... Aku takut sama Allah. Lebih baik kita berpisah saja daripada melakukan hubungan yang gak ada dalam syariat agama....” ujar Jela panjang lebar. Mereka sama-sama menunduk. Udah gak berani berpandangan.
”Iya, kamu benar Je. Udah tidak seharusnya seperti ini. Aku emang masih sayang banget sama kamu tapi aku gak mungkin bisa nikah sama kamu sekang ini. Dan pacaran bukan jalan yang murni untuk mengukuhkan cinta kita. Aku rela berpisah denganmu demi agamaku. Demi Allah...” kata Elon mantap. Meskipun semalaman dia harus tumpah airmata saat memutuskan semua ini.
”Sama Lon, aku juga ikhlas harus berpisah sama kamu demi Allah. Semoga ini menjadi yang terbaik untuk kita...” kata Jela sambil melangkah pergi meninggalkan Elon. Melepasnya dengan ikhlas. Perpisahan cinta dua anak manusia yang begitu saling mencintai. Berpisah karena mereka akhirnya lebih takut pada Tuhannya ketimbang takut kehilangan orang yang dicintainya....
÷÷÷
Musim kemarau telah berlalu, silih berganti dengan pasangannya yang sejati di daerah tropis. Musim hujan. Siap mengisi kekeringan tanah tempat para insan berpijak. Seperti musim hujan yang keberadaannya menyejukkan petani, begitu pula lah Al-Qur’an yang menyejukkan mata hati Jela....
Hari ini dia sangat bahagia, beberapa detik lagi dia akan wisuda. Ya, dia telah menamatkan pendidikan strata satunya di fakultas kedokteran ini. Di sebuah universitas terkemuka di Indonesia. Cita-citanya menjadi seorang dokter telah menjadi kenyataan. Dia berjanji menolong masyarakat miskin yang tak mampu berobat, menolong sesama yang membutuhkan tanpa pamrih, seperti sumpah dokter yang sebentar lagi akan diikrarkannya. Begitu banyak mereka diluar sana yang menanti uluran tangannya.
Setelah acara wisuda, Jela sekeluarga berkumpul di rumah untuk merayakan kelulusannya. Semua orang bangga padanya. Terutama orangtuanya yang selama ini sangat mengharapkan keberhasilan anak semata wayang mereka. Saat itu pulalah datang ustadzah yang selama ini menjadi guru ngajinya.
”Selamat ya Sayang, akhirnya jadi Dokter!!!” katanya lembut begitu Jela memeluknya.
”Terima kasih Mbak, ini juga support dari Mbak supaya aku jangan pantang menyerah menjalani kuliah yang berat ini....”
”Ah, kamu ini. Oh ya, ada yang ingin Mbak bicarain nih. Hanya berdua.”
”Begini Je, kamu kan sudah lulus kuliah. Jadi sudah saatnya kamu mulai memikirkan tentang seseorang untuk menjadi pendamping hidupmu kelak...” kata Mbak Zahra bijak yang sontak membuat Jela tertegun. Selama ini dia tak pernah memikirkan masalah itu.
”Tapi Mbak, aku belum punya calon...!”
”Mbak tahu, makanya Mbak bilang ini. Ada seorang pengacara muda yang minta dicarikan istri kepada suami Mbak. Laki-laki itu juga berguru pada suami Mbak. Meskipun dia kuliah di luar negeri tapi komunikasinya selalu jalan dengan kami selepas dia SMA. Dia sangat percaya suami Mbak akan mencarikan pasangan yang tepat untuknya. Mbak jadi kepikiran sama kamu. Agamanya bagus, itu yang terpenting dari cowok ini Je. Mbak yakin dia akan menuntut kamu ke jalan yang lurus. Masalah yang lain kamu jangan khawatir. Tampang dan pekerjaan tidak perlu diragukan lagi dari laki-laki itu. Tapi semuanya memang tergantung sama kamu juga...” kata Mbak Zahra yang begitu yakin dengan pilihannya untuk Jela.
Lama Jela terdiam. Sebenarnya dia belum ingin memikirkan tentang masalah pernikahan, apalagi dia barusan lulus kuliah. Dia masih ingin mengejar karir dengan pekerjaan idamannya ini. Dia ingin menjadi dokter yang handal dan membantu masyarakat lemah yang banyak sakit tapi minim biaya seperti yang banyak terjadi sekarang. Tapi berat baginya menolak tawaran Mbak Zahra. Mbak Zahra juga pernah berpesan kalau menikah di waktu muda sangat dianjurkan Rasulullah. Menghindarkan dari fitnah. Mungkin karena itu Mbak Zahra tidak ingin membiarkannya lama-lama sendiri.
”Mmmm, baiklah Mbak.... aku niatkan pernikahan itu untuk beribadah kepada Allah ta’alla. Mungkin jodohku sudah sampai...” kata Jela ikhlas.
”Syukurlah kalo begitu. Mbak tahu kamu pasti akan memutuskannya dengan bijak. Sebenarnya orangtua kamu sudah Mbak bicarakan tentang ini dan mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan ke kamu. Kalo sudah begini, tinggal kita atur jadwalnya. Oh ya, apa kamu mau diperkenalkan dulu dengan calon suami kamu? Kita ta’aruf dulu. Gimana?”
”Gak usah aja Mbak. Aku yakin kok pada keputusan Mbak dan suami. Yang terpenting agamanya bagus. Itu udah cukup bagiku...”
Dan... sebulan setelah itu, akad pernikahan Jela dan calon suaminya pun di laksanakan. Bahkan Jela tidak tahu nama laki-laki yang akan membangun mahligai suci rumah tangga dengannya. Baginya siapapun laki-laki itu tidak terlalu penting. Dia yakin Allah pasti memberikan yang terbaik untuknya. Dia percaya firman dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa perempuan baik pasti akan diberikan pada laki-laki yang baik pula. Tak ada keraguan baginya terhadap kalimat tersebut.
Dan disini lah dia sekarang, berjalan menuju penghulu dan laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak. Setelah duduk dengan rapi penghulu pun mulai memegang janji akad nikah yang akan diucapkan oleh sang mempelai laki-laki...
”Saya terima nikah dan kawinnya Ajelia Pirakha binti Akhmad Syam dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!!” kata mempelai laki-laki ini mantap.
”Sah para hadirin?”
”SAH!!!” jawab mereka serentak.
”Akhirnya aku sah menjadi seorang istri sekarang,” syukur Jela dalam hatinya. Setelah berdoa, sekarang giliran Jela untuk mencium tangan laki-laki yang telah sah menjadi suaminya. Ada kelembutan dan kehangatan yang langsung merasuk ke jiwa Jela ketika mencium tangan kokoh itu. Perasaan hangat yang dulu selalu menemani langkahnya, sebelum mendapatkan rengkuhan kasih sayang Allah. Tangan yang dulu mampu menegarkan hari-harinya untuk bersemangat mengarungi kehidupannya yang indah, sebelum tebaran cinta Allah melingkupi hatinya.
”Astagfirullah!! Kenapa aku malah kepikiran orang lain saat aku beberapa detik lalu telah mempunyai suami?!!” hardik Jela pada dirinya sendiri karena membiarkan mengingat kembali masa lalu yang sudah disimpan rapat di peti emas hatinya.
Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat suaminya!!! Dia pun tidak sanggup menahan kegembiraan yang meletup-letup memenuhi batok kepalanya. Bukan dosa ketika beberapa saat yang lalu dia membayangkan sosok itu. Jela pingsan saat mengetahui bahwa suaminya adalah.......Elon!!!
Cinta yang berakhir indah dari sepasang keturunan Adam. Cinta yang harus berpisah karena Allah, kini bersatu karena Allah jua lah yang menyatukannya. Mereka bersatu karena iman yang melingkupi hati dan sanubari mereka. Bahkan sebelum akad nikah berlangsung Elon juga terkejut setengah mati saat tahu kalo perempuan yang akan menjadi istrinya adalah....Jela. Cinta pertamanya dulu...
Surakarta, 06 Mei 2010
sweet.. ^O^
BalasHapus