Arakan cinta tak pernah sepi dari nuansa…
Mengalun merdu menyandingi fatamorgana keindahan..
Meskipun insan telah tercipta dengan asa itu…
Mencintai luar dirinya adalah cinta terendah…
ೖೖೖ
“Masih mengingatku?” tanya seorang laki-laki muda berkacamata dan berpenampilan fisik yang sangat menawan itu penuh selidik.
Aku yang baru selesai menangani pasien remaja yang mengalami fraktur, terlonjak kaget mendengarnya. Ini sudah kelima kalinya dia secara tiba-tiba muncul dihadapanku dan selalu bertanya seperti itu.
Huh!
”Aku kan sudah bilang, aku tidak kenal kamu ini siapa. Maksudku sebelumnya, ya aku sudah tahu namamu Hendra Tulus Mahardika dan kamu dokter umum disini. Tapi selain itu aku tidak kenal siapa kau!!” Bentakku kesal dan cepat berlalu dari hadapannya.
Dengan cara apa lagi aku harus mengatakan kalau aku tidak pernah mengenalnya sebelum ini. Apa aku amnesia dan lupa bahwa dia pernah ada dalam hidupku? Yang benar saja, sampai umurku dua puluh tiga ini aku tidak pernah mengalami kecelakaan dan membuat kinerja otak yang bagian frontalis ini terganggu. Aku masih menyimpan semua memori hidupku sebaik-baiknya. Orang aneh itu saja yang mengaku-ngaku sudah kenal denganku sejak lama.
Aku tahu dia sudah sangat terkenal di kalangan paramedis seantero rumah sakit tempatku bekerja ini, meskipun dia baru ditempatkan dua minggu yang lalu. Apalagi kalau bukan karena fisik dan otaknya yang melebihi rata-rata. Ditambah lagi dengan tebengan baleno biru metalik keluaran terbarunya yang ikut menyemarakan pengapnya parkiran rumah sakit. Tapi kan dia tidak semestinya mengerjaiku seperti itu hanya karena aku sangat acuh padanya. Di rumah sakit, paramedis itu tugasnya melayani pasien sebaik mungkin, bukannya sibuk hilir mudik menemani dokter sok ganteng itu.
Aku semakin mempercepat langkah saat dia masih memanggil namaku. Aku berharap semoga dia dicegat beberapa perawat muda dan tidak bisa mengejarku seperti kemarin. Bisa-bisa keluar lagi lahar panas dari tubuhku dan menghanguskan jasadnya seketika.
Brukk!!
”Aw..sakit..duh maaf ya...ini salah saya gak liat di depan. Maaf..anda tidak apa...” mulutku berhenti komat kamit minta maaf saat melihat sosok yang kutubruk barusan. Andi!
ೖೖೖ
Aku hampir saja menjadi seorang guru fisika kalau bukan karena dia. Awalnya dia yang membuat hari-hariku bersemangat. Aku yang hampir gila kuliah di fisika, bisa juga beradaptasi dengan jurusan tersebut. Dan itu karena dia, Andi, mahasiswa teladan yang mau berteman dengan gadis yang tak bisa akur dengan fisika. Aku bahkan tak menyangka bisa mendapatkan IP diatas 3,4 di jurusan yang aku sendiri bingung kenapa bisa jadi mahasiswa disitu. Dan itu karena andilnya si Andi.
Awalnya aku bisa mengatasi rasa cinta pertamaku. Tapi setelah bersahabat setahun lamanya dan selalu bersamanya, mulutku tak bisa bungkam lagi untuk menyatakan cinta pertamaku itu. Dan yang menyebalkan aku masih ingat dengan betul kata-kata bodoh yang kulontarkan saat itu.
”Aku..aku suka sama kamu, An!” kataku tiba-tiba saat kami lagi duduk berdua di bangku bundar taman kampus.
”Oh ya, aku juga suka sama kamu,” jawab Andi santai tanpa melihat ekspresi wajahku yang sudah berubah warna dari biru ke merah. Aku tak menyangka dia membalas cintaku. Tapi kemudian dia melanjutkan perkataannya, ”Kamu teman yang sangat baik, menyenangkan, sedikit heboh, jadinya aku suka menjadi temanmu..”
”Lho, jadi,,,maksudmu?”
”Iya, aku suka berteman sama kamu Ra. Memangnya ke..” Andi tidak melanjutkan kata-katanya saat dia berpaling melihatku. Dan dramatis sekali dia telah melihat ekspresi wajahku yang seperti anak kecil yang ingin meledakkan tangisnya karena ibunya tidak mau membelikan permen kesukaannya.
”Ya ampun, Ra. Jangan-jangan maksud kamu tadi adalah kamu...kamu menyukaiku?!” huh, memangnya tadi aku bilang apa. ”Maafkan aku, Ra. Tapi sayang kamu bukan tipeku. Aku sudah jatuh cinta pada seorang model yang bernama An...”
Ku potong kata-katanya dengan beranjak pergi dari hadapannya. Pengakuan yang sungguh menyakitkan. Wajahku malah tidak berwarna sama sekali menahan kesedihan yang melingkupi perasaanku. Akupun langsung berlari meninggalkan Andi yang masih komat-kamit menolak dan membanggakan gadis itu. Aku salah mengartikan sikap manis Andi selama ini padaku.
Aku bahkan merasa tidak bermuka saat bertemu dengannya saat insiden menyakitkan itu. Apalagi kami berada di satu fakultas, satu jurusan, satu kelas, satu kelompok, dan entah satu perkumpulan apalagi. Sejak kejadian yang menurutku juga memalukan itu aku tak pernah bicara satu huruf pun dengannya. Dan dia juga tidak pernah mendesakku. Hingga kami tak pernah berteman akrab seperti dulu lagi.
Memang kalau aku pikir lagi, aku tak sebanding dengannya. Andi tampan, wajahnya sangat menawan plus menggoda iman, alisnya tebal, bulu matanya lentik nan panjang, bola matanya berwarna coklat yang cerah, hidungnya bangir, dan bibirnya merah merekah-yang menandakan tidak pernah tersentuh barang beracun yang bernama rokok. Ditambah lagi otaknya yang cerdas dan harta bendanya yang menyilaukan mata. Berdiri disampingnya membuatku seperti babu yang tak terpandang, yang baru kusadari saat aku ditolaknya.
Untunglah saat akhir semester dua, mamaku menawarkan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri lagi. Mama merasa bersalah karena telah memaksaku kuliah di jurusan yang sama sekali tidak kuminati. Tanpa pikir panjang, aku pun melepaskan FKIP fisika itu dan menjadi mahasiswa kesehatan jurusan fisioterapi seperti impianku.
ೖೖೖ
”Selamat pagi Nona Ira. Gimana keadaamu pagi ini?” sapa seorang laki-laki tampan itu dengan sopan saat aku baru saja keluar dari tunggangan besiku.
“Pagi!!” sahutku sejutek mungkin. Sebenarnya aku ingin menjawab keadaanku baik-baik saja pagi ini tapi sayang orang yang menanyakannya adalah orang yang menyebalkan bagiku akhir-akhir ini. Mengapa sepagi ini aku sudah harus bertemu dengan si sengak itu!
”Tapi keadaanmu sedang tidak baik, ya?”
”Kalau kamu sudah tahu, kenapa juga nanya-nanya!” jawabku ketus dan cepat meninggalkannya.
”Maaf kalau begitu. Sepertinya kamu gak suka padaku...maaf kalau kamu terganggu dengan kehadiranku tapi benarkah kamu tidak mengingatku lagi?” tandas cowok atletis itu. Dia terus saja bicara tanpa mempedulikan orang-orang yang mulai berdatangan di parkiran rumah sakit dan aku yang mulai menjauh dari hadapannya. Sayangnya aku masih bisa mendengar apa yang dia katakankan. ”Aku ini Tulus, sahabat kecilmu!”
Sahabat kecil? Sahabat kecil dari Vietnam! Sejak kapan aku punya sahabat kecil macam dia. Dulu dia juga mengatakan seperti itu dan sempat terlintas dipikiranku kalau dia adalah Tulus yang gembrot itu.
Hmmm...memang aku punya sahabat kecil dan namanya Tulus pula. Terakhir aku bertemu dengannya saat kelulusan SMP dan perawakannya masih seperti kuda nil. Apalagi wajahnya dulu dikerumbungi jerawatan, bintik-bintik hitam, dan lemak yang bergelantungan. Tulus sahabatku juga badannya pendek dan berantakan sekali. Sampai aku sulit mengungkapkan dengan kata-kata kekucelannya. Kerjaannya cuman makan dan makan. Dari TK sampai SMP, Tulus tidak pernah berubah dan aku tahu dia sangat cinta pada segala jenis coklat melebihi apapun.
Jadi mana mungkin sahabatku Tulus berubah 180 derajat menjadi Tulus yang sekarang ini. Aku yakin sahabatku Tulus tidak akan berubah karena dia sendiri bilang bahwa sangat bahagia dengan keadaannya.
Aku kembali menghembuskan nafas saat berfikir keras seperti ini. Setelah tiba di meja kerjaku, sebuah bingkisan berwarna biru langit telah manis menunggu di sana. Aku tersenyum, bukankah sekarang tanggal 13. dan pasti itu bingkisan dari Tulus.
”Kali ini apa, ya?” gumamku sambil menerka barang yang tersembunyi dari balik kotak itu.
Sejak berpisah delapan tahun yang lalu, Tulus memang selalu hadir dengan surat dan barang-barang menggemaskan setiap bulan tanggal 13. Karena saat tanggal 13 itulah kami berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Aku sering bingung memikirkan dari mana dia tahu alamat kerjaku sekarang. Apalagi Tulus tidak pernah memberikan alamat dan nomor teleponnya sehingga aku tidak bisa membalasnya. Tapi aku sering mengabaikan pertanyaan itu dan cukup senang dengan kunjungan rutinnya ini.
Kubuka bungkusan itu dan mendapati sehelai syal lembut berwarna merah jambu. Aku menyeringit heran. Bukannya aku tidak suka dengan barang pemberiannya tapi selama ini dia selalu memberikan barang-barang berwarna biru langit. Dan ini pertama kalinya dia memberikanku barang dengan warna lain, merah jambu pula. Tapi awan keherannku menghilang saat membaca suratnya. Ternyata sahabatku sedang jatuh cinta, dan ingin menyatakan cintanya pada gadis impiannya sebentar lagi. Si gembrot itu akhirnya bisa juga suka sama seorang gadis, batinku lucu. Baiklah, akan kupakai syal ini sebagai tanda aku ikut bahagia atas cinta yang dilanda sahabatku.
Kemudian aku beranjak dari meja kerjaku dan berjalan menuju kamar pasien. Tapi tiba-tiba dadaku terasa sesak. Aku teringat kalau hari ini adalah jadwal aku melakukan terapi pada Andin, tunangan Andi. Saat mengetahui dia kecelakaan, ada sebagian kisi hatiku yang bahagia. Kaki sebelah kirinya patah dan tentu saja dia tidak bisa melenggak-lenggok di atas catwalk seperti yang dibanggakan Andi!
Bukannya aku tidak bisa bertindak profesional tapi aku tidak bisa menutupi rasa cemburuku. Meskipun rasa cintaku pada Andi sudah lama terkikis tapi tetap saja gejolak perasaan aneh itu tak mau pergi dari hatiku. Gadis itu beruntung mendapatkan Andi. Belum hilang rasa mangkelku, Tulus sudah menjajarkan langkahnya di sampingku. Aku sendiri bingung, kenapa dia suka sekali hadir di sekitarku tanpa aku bisa mendeteksi kehadirannya!
”Jangan manyun gitu dong, ntar pasienmu takut lagi lihat terapisnya bertampang sangar gitu,”
”Biarin, emang apa pedulimu? Lagian kan kalau bukan karena dia adalah...” suraku tercekat menahan emosi untuk melanjutkan perkataanku.
”Itukan masa lalu. Lagian dia juga pasienku jadi aku juga harus bertanggung-jawab kalau dia kenapa-kenapa,”
”Tunggu dulu, kamu bilang apa tadi? Masa lalu? Tahu apa kamu tentang masa laluku?” cercahku sambil menghentikan langkahnya. Apa dia tahu tentang masa laluku?
”Hmmm, syal yang kamu pakai bagus. Pasti kamu orang yang spesial bagi orang itu sampai dikasih syal secantik ini...”
”Jangan mengalihkan pembicaraan, aku ingin kamu menjawab pertanyaanku!”
”.....”
”Dan...dan darimana kamu tahu kalau syal ini hadiah dari seseorang?” aku benar-benar bingung dengan orang satu ini. Mengapa sepertinya dia tahu segalanya tentangku.
”Ayolah Bi, aku kan sudah bilang kalau aku ini Tulus sahabatmu. Masa’ kamu sudah melupakanku?” akunya yang membuatku dihinggapi perasaan heran.
”Sebentar, kamu panggil aku apa tadi?”
”Bi, Biru. Kamu sendiri tahu kan kalau hanya aku yang memanggil kamu dengan warna kesukaanmu itu? Dan sekarang kamu masih tidak percaya kalau aku ini adalah Tulusmu?”
Aku hampir saja limbung kalau tidak cepat duduk di kursi sampingku. Biru, ya memang hanya Tulus sahabatku yang memanggilku seperti itu. Jadi benar dia adalah Tulus.
”Ta...tapi, Tulus yang aku kenal tidak seperti kamu...” mataku nanar menatap tampang gagah di hadapanku.
”Memanngnya kamu pikir aku tidak bisa berubah, ya? Lagian setiap kali aku ingin menjelaskan, kamu seperti alergi melihatku,”
”Huh, habisnya kamu seperti Andi...”
”Seperti Andi? Aku ini kan dokter bukan dosen, kok kamu bilang seperti dia?” protesnya bingung. Entah sejak kapan dia jadi lemot seperti ini.
”Bukaaan, bukan yang itu. Kamu sekarang sangat tampan, tinggi, atletis, putih bersih, cerdas, dan sangat tajir. Melihatmu, mengingatkanku pada Andi itu. Kalian persis sama...” terangku sambil mencoba menstabilkan emosi yang mulai mengaduk-ngaduk hatiku. ”Dan...dan aku pernah dikecewakan olehnya... dia tidak pernah mencintai gadis biasa sepertiku. Dan aku yakin semua cowok seperti dia pasti hanya menyukai gadis yang sebanding dengan mereka, setipe fisik dengannya..” kataku dengan sekuat tenaga menahan air mata yang ingin menari-nari di kelopak mataku. Mengingat apa yang pernah dikatakan Andi dulu.
”Biru..kenapa kamu sampai punya pikiran seperti itu? Aku pikir kamu gadis yang realistis,Bi. Yang kutahu dulu kamu tidak pernah menyamakan semua orang dengan sosok yang pernah mengecewakanmu...”
”Sok tahu!! Darimana kamu tahu tentangku setelah lama tidak bertemu?”
”Kamu pikir aku tidak bisa menyewa intel untuk mengawasimu setiap saat, ya? Bahkan aku juga tahu kamu pernah minggat dari FKIP terus akhirnya kuliah dan bekerja sebagai fisioterapis di rumah sakit ini. Dan gimana susahnya aku menolak beasiswa universitas supaya bisa bekerja di sini untuk bertemu denganmu lagi....”
”....”
”Dan tentang Andi..aku tahu kamu pernah merasa dikecewakan olehnya tapi aku gak tahu kalo kamu menyamakan semua perasaan laki-laki lain yang kamu lihat sama seperti dia..”
”Humph...ya kamu itu sama saja. Memang aku gak lihat kamu yang tuap hari dikerumunin perawaperawat yang cantik itu, hah?”
”Aku tidak pernah ingin diperlakukan seperti itu, Bi. Memangnya kamu gak lihat tampang meranaku saat kondisi kaya gitu? Tujuanku disini selain mengabdikan diri pada masyarakat juga karena aku ingin bersamamu lagi. Tahu gak, sejak kamu bilang kamu ingin melihatku menjadi cowok yang menawan aku mati-matian merubah total penampilanku seperti sekarang ini. untung aja aku gak tergoda untuk menjalankan operasi plastik segala!! Tapi anehnya, saat aku udah seperti yang kamu inginkan, kamu malah melihatku seperti anjing yang kudisan. Memangnya kamu pikir aku gak tersiksa diperlakukan kayak gitu...”
”Maaf...maaf sebelumnya....tapi untuk apa kamu melakukan semua itu? Aku ini bukan gadis cantik seperti Andin...” ringisku mengingat Andi yang lebih memilih model itu ketimbang aku.
”Kamu itu....kamu....kamu cinta pertamaku, Bi. Aku tidak pernah silau melihat fisik seseorang sebagai salah satu alasanku menciintaimu. Aku mencintaimu karena hati dan sikapmu yang sesuai dengan keyakinanku. Bukankah fisik itu adalah sesuatu yang fana, Bi? Jadi buat apa aku mencintaimu atas dasar itu!! Aku bahkan sudah menyukaimu sejak kita SMP. Aku sadar kamu berbeda dengan gadis sebayamu yang sudah kecentilan saat itu..”
Aku hanya menghela nafas panjang mendengar penuturannya yang seperti menghinaku. Tulus benar. Kenapa dulu aku harus mencintai seseorang karena fisiknya? Sejak kapan hatiku buta dan menganggap fisik adalah syarat mutlak dasar untuk mencintai seseorang? Dan kenapa aku tidak adil dengan menganggap Tulus seperti Andi...
”Kalau gitu, kamu kembali menjadi Tulus yang gembrot aja. Aku kan gak mau mencintai seseorang dari fisiknya lagi...” kataku sambil memperbaiki espersi wajahku yang berantakan.
”Biruuu..kamu jahat banget sih....kan gak mesti aku harus kembali ke wujud semula supaya kamu mau menerima cintaku. Bukankah lebih menyenangkan kalau hati dan fisikku sama-sama menawan? Jadi kamu dapat bonus,he..” canda Tulus yang berhasil membuat kinerja otot zigomatikus minorku berfungsi lagi. Aku hanya menggelengkan kepala menyikapi sifat narsis Tulus ini. tapi yang lebih penting ruang hatiku sudah mengembang lagi. Seribu bunga mawar sudah berhamburan di dalamnya.
Aku berdiri dan Tulus mengajakku melanjutkan pekerjaan kami yang sempat tertunda. Hingga diambang pintu kamar pasien, wajahku masih merona merah menanggapi respun hatiku tentang tawaran cinta Tulus.
”Jangan senyum-senyum sendiri. Ntar pasien ngeri lagi lihat mukamu itu!” canda Tulus lagi sambil menggerakkan engsel pintu di depannya. Tak elak hampir kulayangkan tinjuku ke lengannya seandainya aku tudak melihat Andi dan Andin yang melonggo melihat kedatangan kami.
”Oh...eh maaf membuat kalian lama menunggu,” kataku sambil menyembunyikan tangan kananku yang telah menyentuh jas putih Tulus.
”Iya, kami minta maaf. Tadi kami ada sedikit urusan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi,”
”Tidak....tidak apa kok Dokter. Saya juga barusan selesai sarapan kok....” jawab Andin bersikap manis yang dibuat-buat yang membuat perutku mulas. Selain kakinya, sepertinya mukanya juga harus kuterapi sekalian biar berfungsi wajar!!
”Iya kok Dok. Mmm, jadi yang akan menerapi Andin...”
”Oh ya maaf. Saya lupa bilang kemarin. Ini Ayra Swelya, dia yang menjadi fsioterapis saudari Andin,”
”Ya, saya sudah mengenal Ayra sebelumnya tapi saya tidak menyangka kalau dia yang akan menjadi terapisnya Andin. Dan maaf, sepertinya kalian sangat akrab, ya?” cercah Andi yang membuatku jengkel. Lagian aku tidak pernah meminta Andin yang menjadi pasienku dan sekarang dia malah berkomentar tentang keakrabanku dengan dokter muda disampingku. Aku sudah hendak memuntahkan argumenku saat Tulus tiba-tiba sudah berkoar dengan bangganya..
”Tentu saja kami sangat akrab dan kompak. Duel antara dokter dan fisioterapis yang sangat serasi bukan! Dan saya juga ingin menyampaikan kalau fisioterapis Ayra ini adalah calon istri saya..” sesaat kemudian semua langsung hening dan sedetik kemudian setelah aku bisa mencerna maksudnya aku merasakan ada kupu-kupu yang menari salsa di perutku. Dan suasana ruangan putih itu telah bercampur sejuta rasa.
Surakarta, 01 November 2010
sepertix ad yg q tau... hehehe... terutama yg bagian "Aku hampir saja menjadi seorang guru fisika" hehehe...
BalasHapusn ok lach ceritanya....
saran : buat sweet moment... ^^ *saya suka yg maniez2..hehehe*
d tunggu yg cerita selanjutx.. ^^